DetikNews
Rabu 18 Juli 2018, 18:01 WIB

Menyedihkan, Siswa SD di Ponorogo Ini Nekat Belajar di Emperan

Charolin Pebrianti - detikNews
Menyedihkan, Siswa SD di Ponorogo Ini Nekat Belajar di Emperan Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Penutupan SDN 2 Bangunsari, Kota Ponorogo mendapat tentangan dari wali murid maupun siswa. Bahkan di hari ketiga tahun ajaran baru, puluhan siswa memilih belajar di emperan kelas.

Hal ini terpaksa dilakukan mengingat ruang-ruang kelas di sekolah yang terletak di Jalan Sultan Agung, Kota Ponorogo ini telah dikunci. Sekolah itu dipastikan akan ditutup tahun ini juga karena kekurangan siswa.

Namun meski hanya belajar di emperan, ke-20 siswa yang tetap datang ke sekolah terlihat antusias. Mereka pun belajar dengan semangat dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh pengajar.


Pengajarnya pun sebenarnya bukan guru di SDN 2 Bangunsari, melainkan seorang wali murid yang sengaja meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak. Wali murid tersebut merasa miris karena anak-anak dibiarkan tidak menjalani kegiatan belajar mengajar selama 2 hari belakangan.

"Saya cuma inisiatif sendiri mengajar anak-anak. Soalnya kasihan 2 hari kemarin mereka cuma bermain aja," tutur wali murid bernama Wahyu Triwulandari (40) itu kepada wartawan, Rabu (18/7/2018).

Wali murid sebenarnya telah mendapatkan pemberitahuan agar memindahkan anak-anaknya ke sekolah lain. Namun hal ini sulit untuk direalisasikan. Mereka beralasan karena masalah ekonomi. Pasalnya SDN 2 Bangunsari merupakan satu-satunya sekolah gratis di Kota Ponorogo.

"Siswa itu hanya disuruh bayar buku saja, yang lain nggak bayar. Jadi kami tertolong dengan adanya sekolah ini. Kalau ditutup dan disuruh pindah kami tidak mampu," jelas Wahyu.


Salah satu siswa yang bertahan, Sofia Mila (9) mengaku keberatan jika harus pindah sekolah. "Saya pengen sekolah di sini saja karena nyaman di sini dekat rumah. Saya juga masih semangat belajar. Untungnya tadi ada yang ngajarin meski belajar di emperan karena ruangannya ditutup," tuturnya.

SDN 2 Bangunsari telah lama dikenal sebagai sekolah murah. Banyak anak dari buruh cuci, buruh bangunan dan tukang parkir yang bersekolah di sini.

Sejak rencana tentang penutupan sekolah ini tersebar di kalangan wali murid, banyak dari mereka yang kebingungan. Selain mengkhawatirkan kondisi psikologis siswa, mereka juga mencemaskan biaya yang harus dikeluarkan pascakepindahan sekolah di antaranya biaya pendaftaran, biaya seragam dan buku yang menyesuaikan dengan sekolah baru.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed