Komnas PA: Waspada, Anak-anak Jadi Modus Baru Terorisme

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Rabu, 16 Mei 2018 18:44 WIB
Foto: AKBP Roni membopong bocah dari TKP ledakan di Mapolrestabes Surabaya (istimewa)
Surabaya - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dan Mapolrestabes Surabaya yang melibatkan anak-anak merupakan modus baru di Indonesia.

Untuk itu, Arist pun mengimbau kepada masyarakat agar aktif melindungi anak-anak dari hal ini.

"Komnas Perlindungan Anak mewaspadai sebagai modus baru yang didoktrin selama terus-menerus oleh pelaku. Karena itu kami imbau masyarakat supaya lebih waspada. Karena anak-anak ini merupakan korban dari doktrinasi yang sedemikian rupa, sehingga pola berpikirnya berubah," kata Arist saat jumpa media di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu (16/5/2018).

Tak hanya itu, Arist mengungkapkan usia anak-anak memang sangat rawan untuk dan mudah untuk dipengaruhi sebab mereka masih memasuki usia masih rentan.


"Usia-usia anak di SD, SMP, maupun SMA ini masih mudah untuk dipengaruhi pikirannya. Jadi nggak bisa disalahkan kalau mereka juga terlibat. Ini adalah korban dari orang tua yang salah," lanjutnya.

Kendati demikian, Arist berpesan pada elit politik dan negara untuk bersama-sama menerapkan satu visi dalam memberantas aksi teroris ini.

"Ini adalah kejahatan kemanusiaan, bukan pengalihan isu. Karena itu kami mendukung Presiden membuat Perppu," tegasnya.

Sedangkan untuk polisi, Arist meminta agar pihak berwajib ini memperlakukan anak-anak sebagai korban, bukan pelaku.

"Kami sampaikan bahwa mereka adalah korban bukan pelaku," tutupnya.


Hal ini juga diamini Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang lebih akrab disapa dengan Kak Seto. Ia juga meminta agar masyarakat maupun media tidak menganggap anak-anak tersebut sebagai pelaku pengeboman, sebab anak-anak itu tak lebih dari korban doktrin dari ayah dan ibunya semata.

"Aksi terorisme anak mendapat simulasi yang negatif. Karena mereka sangat mudah untuk dipengaruhi. Mereka tentu tidak bisa disalahkan. Karena kami mohon kepada seluruh media untuk mengoreksi bahwa anak-anak tersebut bukanlah pelaku. Mereka adalah korban," ujar Kak Seto dalam kesempatan terpisah.


Kak Seto juga berjanji akan memberi perlindungan kepada anak-anak yang menjadi korban aksi teror bom tersebut. "Kami akan tetap melindungi, karena ini sangat berbahaya terhadap perkembangan psikologi anak," tegasnya.

Pria berkacamata ini menambahkan, LPAI akan terus memberi masukan dan imbauan kepada anak dan orangtua untuk mencegah pandangan keliru terhadap aksi bunuh diri yang menganggap pelakunya bisa masuk surga.

"Ini tugas kami untuk meluruskan. Kami akan ciptakan ramah anak, anak aman, dan nyaman anak. Yang jelas amanatnya tidak melakukan kekerasan, kedua tidak menyuruh anak untuk melakukan kekerasan," tambahnya. (lll/lll)