DetikNews
Selasa 21 November 2017, 16:57 WIB

Ini Cerita Penambang Belerang Sebelum Membangun Homestay

Ardian Fanani - detikNews
Ini Cerita Penambang Belerang Sebelum Membangun Homestay Salah satu sudut Ijen Miner Family Homestay (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Berani berubah yang dilakukan satu keluarga penambang belerang dengan membuat homestay di kaki Gunung Ijen, membuat perubahan drastis pada kondisi ekonomi keluarga tersebut. Sariyono bercerita tentang keadaannya sebelum membangun homestay.

Keadaan dan kondisi saat ini, kata Sariyono, berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya saat mereka menambang belerang di Kawah Ijen. Sariyono bercerita, sejak tahun 1972, dirinya menjadi penambang belerang dengan kondisi yang pas-pasan.

Dahulu dirinya harus jalan kaki, berangkat jam 10 malam, dari rumahnya di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, naik ke Puncak Gunung Ijen sejauh 9 kilometer. Begitu juga saat dia turun, dengan jarak yang sama, memanggul 80 kilogram belerang.

Saat itu bukan uang yang dia dapatkan, melainkan secarik kertas nota sebagai tanda terima dari pembeli belerang. Nota itu yang dipakainya membayar sembako di toko, untuk diberikan kepada istri dan 3 orang anaknya.

"Kami ingin anak-anak tidak menambang. Bisa kuliah dan akhirnya pegang kerjaan," kata Sariyono kepada detikcom, Selasa (21/11/2017).

Dia mengatakan, menambang sekarang tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terutama saat kebutuhan biaya pendidikan anak semakin mahal. Kini Sariyono sudah tidak menambang lagi.

"Dulu bisa naik ambil belerang dua kali. Masing-masing seberat 80 kilogram, hasil uang yang dibawa pulang uang Rp 150 ribu," tambahnya.

Baca juga: Salut, Penambang Belerang Ini Bangun Homestay dengan Biaya Sendiri

Sariyono dan keluarga di depan homestay-nyaSariyono dan keluarga di depan homestay-nya (Foto: Ardian Fanani)
Baca juga: Biaya Kurang saat Bangun Homestay, Penambang Belerang Jual Sapi

Penghasilan itu harus dipotong uang bensin naik ke Paltuding Gunung Ijen, biaya rumah tangga dan biaya pendidikan anak-anaknya. Belum lagi medan sulit Kawah Ijen, beratnya beban pikulan, asap Kawah Ijen yang mengandung sulfur memberikan risiko gangguan kesehatan bagi para penambang.

"Alhamdulillah dengan program Bupati yang menggalakkan pariwisata bisa merubah keluarga saya. Dulu kami berpikir hanya tambang belerang yang bisa menghidupi saya. Tapi ternyata ada cara lain mencari uang untuk keluarga, Alhamdulillah," tambah Sariyono.

Meski homestay yang dibangun sudah berkembang, namun Sariyono tak berpuas diri. Mereka saat ini menambah fasilitas berupa mobil, untuk antar jemput wisatawan.

"Sudah ada dua kendaraan, Trooper dan mobil MPV. Alhamdulillah kami bisa tambah fasilitas untuk wisatawan," ujar Ahmad Efendi, anak Sariyono.

Penambahan fasilitas ini semakin membuat keempat keluarga tersebut sibuk. Mereka pun membagi aktivitas melayani para tamu sesuai dengan keahlian.

"Ada yang bersih-bersih. Ada yang sopir dan ngantar tamu keliling jadi guide. Yang masak ya orang tua kami," tandasnya.

Baca juga: Homestay yang Dibangun Penambang Belerang Laris Jadi Jujugan Bule
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed