DetikNews
Selasa 21 November 2017, 15:45 WIB

Salut, Penambang Belerang Ini Bangun Homestay dengan Biaya Sendiri

Ardian Fanani - detikNews
Salut, Penambang Belerang Ini Bangun Homestay dengan Biaya Sendiri Ijen Miner Family Homestay (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka'. Penggalan surat Ar-Ra'd ini terpatri di benak Sariyono (57), penambang belerang di Kawah Ijen. Surat itu pulalah yang memotivasi Sariyono hingga dia mampu mengubah kehidupannya.

Warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi itu bersama dengan keluarganya membangun sebuah homestay untuk wisatawan yang akan ke Puncak Ijen. Keluarga yang membantu Sariyono adalah kedua anaknya, Sugiyono (37) dan Ahmad Efendi (35), serta menantunya, Miskadi (32), yang seluruhnya juga penambang belerang.

Homestay ini, menjadi pengubah kehidupan keluarga penambang belerang yang sejak tahun 1972 mengais rezeki untuk keberlangsungan hidup keluarga ini. Homestay yang berdiri di lahan keluarga ini diberi nama Ijen Miner Family Homestay.

Homestay milik keluarga Sariyono ini terdiri dari 10 kamar berukuran 3x3 meter. Di dalamnya dilengkapi tempat tidur, meja dan kipas angin. Jika membuka jendela, nampak rimbun tanaman kopi menambah suasana asri tempat yang berada tepat di kaki Gunung Ijen ini. Sementara konsep bangunan dibuat panggung, untuk menghindari genangan air dan binatang liar.

Sariyono dan keluarganya di depan homestay miliknyaSariyono dan keluarganya di depan homestay miliknya (Foto: Ardian Fanani)
"Saya harus berubah. Makanya anak-anak saya ajak berubah tidak lagi menambang belerang. Jangan lagi keturunan saya susah (menambang belerang)," ujar Sariyono kepada detikcom di homestay tersebut, Selasa (21/11/2017).

Perubahan ini dilakukan Sariyono sejak tiga tahun lalu. Bersama kedua anak dan menantunya Sariyono membangun homestay milik keluarga ini. Anggaran pembangunan pun dilakukan patungan. Mereka kemudian membangun homestay tersebut sendiri, tanpa membayar orang lain, seperti tukang dan kuli.

"Kami buat sendiri. Mengenai dana, semua patungan. Pertama terkumpul Rp 3 juta. Kami buat beli semen, pasir dan besi untuk kerangka bangunan homestay. Sementara kayu kami ambil dari kebun sendiri," tambahnya.

Sariyono mengaku, selain ingin ada perubahan dalam kehidupannya, ide membuat homestay ini didasari dengan keluhan turis yang bingung tempat untuk menginap di sekitar Kawah Ijen.

"Saat saya ngambil belerang banyak turis yang bingung cari penginapan. Ini kan jadi peluang usaha juga. Makanya kami bikin homestay ini," tambahnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed