Menjelajah Sangkrah, Kampung Air Bersejarah di Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Minggu, 26 Des 2021 16:45 WIB
Pabrik limun De Hoop di Sangkrah, Solo
Pabrik limun De Hoop di Sangkrah, Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Kawasan Sangkrah yang kini menjadi salah satu nama kelurahan di Kota Solo rupanya memiliki sejarah panjang. Sangkrah yang merupakan wilayah pinggir Bengawan Solo ternyata memiliki sejarah penting dalam pengelolaan sungai.

Kisah-kisah tentang Sangkrah diungkap dalam kegiatan napak tilas oleh komunitas sejarah Solo Societeit. Kegiatan ini bertajuk 'Mutiara Solo Timur: Menyapa Kawasan Sangkrah Tempo Doeloe'.

Pendiri Solo Societeit, Heri Priyatmoko, menyebut penamaan Sangkrah sendiri sudah erat hubungannya dengan sungai, yakni berkaitan dengan mencegat atau membendung sesuatu di sungai, seperti sampah atau ikan.

Ahli bahasa CF Winter dalam kamus Tembung Kawi Mawi Tegesipun, sangkrah bermakna susuh. Sedangkan dalam kamus Bausastra Jawa karya WJS Poerwadarminta, dijelaskan terminologi sangkrah adalah rêrencekan lsp. sing dianggo ropoh ut. sing kèli ing banyu (ranting-ranting untuk mencegat barang yang hanyut di air).

"Sejak awal Sangkrah adalah sungai besar. Babad Giyanti menyebutkan kata 'Bengawan Sangkrah' dalam proses pencarian lokasi ibu kota kerajaan," kata Heri usai kegiatan di Sangkrah, Minggu (26/12/2021).

Pengendalian banjir dari Sangkrah

Dalam perkembangannya, Pakubuwono IV (1788-1820) menguruk kawasan Sangkrah hingga Baturono (barat Semanggi) menjadi daratan. Hal ini dilakukan sebagai langkah pengendalian banjir di masa itu.

Proyek pengendalian banjir juga dilakukan di era-era selanjutnya. Salah satunya di masa Pakubuwono X, yakni setelah adanya peristiwa banjir tahun 1902 yang disebabkan Kali Pepe meluap.

Kemudian dibangunlah kanal yang menghubungkan Sungai Pepe dan Bengawan Solo. Proyek ini rampung pada tahun 1910. Meski demikian, kala itu banjir masih saja menjadi masalah warga Solo.

"Pakubuwono X bersama petinggi kolonial Belanda kemudian membangun pintu air di Demangan, Sangkrah tahun 1918," ujar dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tersebut.

Upaya penanganan banjir terus dilakukan secara berkelanjutan, karena banjir masih menjadi bencana bagi warga Solo. Puncaknya, Solo mengalami banjir besar pada 1966. Penanganan banjir pun masih dilakukan sampai sekarang.

Bangun jembatan

Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, menjelaskan Sangkrah memiliki jembatan yang juga bersejarah. Berdasarkan arsip lawas, diduga lokasi yang dimaksud ialah di sebelah Kantor Kelurahan Sangkrah.

Selengkapnya berdirinya stasiun dan pabrik limun di Sangkrah...