ADVERTISEMENT

Budayawan-Sejarawan Bicara Suksesi Mangkunegaran, Siapa yang Dinilai Layak?

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 03 Nov 2021 20:32 WIB
Budayawan-sejarawan memberi masukan terkait suksesi Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu (3/11/2021).
Budayawan-sejarawan memberi masukan terkait suksesi Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu (3/11/2021). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo -

Menjelang 100 hari wafatnya KGPAA Mangkunegara IX, sosok penerus masih belum ditentukan. Budayawan hingga sejarawan turut memberi masukan terkait suksesi Pura Mangkunegaran.

Pembahasan suksesi Mangkunegaran ini terjadi dalam forum seminar bertajuk 'Memetri Nilai-nilai Mangkunegaran dalam Tantangan Masa Depan' di Solo, Rabu (3/11/2021). Sebagai narasumber ialah sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Suhartono Wiryopranoto, sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto dan budayawan Solo ST Wiyono.

Ketiga narasumber tersebut memiliki pandangan yang agak berbeda mengenai suksesi Mangkunegaran. Namun beberapa pandangan yang mengemuka ialah penerus takhta sebaiknya adalah putra tertua.

Seperti disampaikan Suhartono yang menyebut ada dua pilihan utama sebagai pewaris takhta, yakni GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara dan GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo. Namun dia menilai Paundra lebih tepat karena anak pertama, meskipun bukan putra dari permaisuri.

"Dalam kultur Jawa, ada budaya patriarki, artinya harus laki-laki. Menurut subjektivitas saya, bisa putra dari permaisuri ataupun bukan. Tetapi lebih baik yang sepuh (tua). Sekali lagi, ini pendapat subjektif, nanti kan keputusan tetap di tangan keluarga," kata guru besar UGM itu.

Dia juga membahas satu nama yang merupakan keponakan Mangkunegara IX sekaligus cucu tertua Mangkunegara VIII, yaitu KRMH Roy Rahajasa Yamin. Suhartono menilai Roy merupakan salah satu alternatif.

"Dari sejarahnya memang penerus itu tidak selalu ke putra. Tapi yang utama memang putranya langsung, sedangkan Roy jadi alternatif lain," ujar dia.

Suhartono juga menjelaskan bahwa suksesi di Mangkunegaran selalu berjalan dengan baik. Hal ini menurutnya juga harus berlanjut dalam pergantian tampuk kekuasaan kali ini.

"Pergantian kekuasaan dari Mangkunegara I dan seterusnya itu ternyata berlangsung damai. Ada yang menyebut itu hanya di permukaan, pasti di bawahnya ada konflik. Ya mungkin saja, tetapi itu hanya riak-riak kecil," ujar dia.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT