Duh! Sungai-sungai di Klaten Tercemar Limbah, Begini Hasil Tesnya

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 07 Okt 2021 17:01 WIB
Warga memancing ikan di alur Sungai Glogok tengah kota Klaten, Kamis (7/10/2021).
Warga memancing ikan di alur Sungai Glogok tengah kota Klaten, Kamis (7/10/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Sebanyak 13 sungai di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah mengalami pencemaran. Hal itu diketahui setelah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten menguji sampel baku mutu air di sungai-sungai tersebut.

"Iya semua sungai (tercemar). Hasilnya ada beberapa parameter yang temuannya di atas baku mutu," ungkap Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan DLHK Klaten Dwi Maryono pada detikcom, Kamis (7/10/2021) siang.

Dwi mengatakan DLHK melakukan uji kualitas air di 13 sungai di Klaten tahun ini. Uji kualitas dilakukan dengan 27 parameter, termasuk biological oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), uji fosfat, dan lainnya.

"Semua di atas baku mutu. Ya ini artinya tercemar," sambung Dwi.

Dengan hasil yang di atas baku mutu, ujar Dwi, air sungai menjadi berbahaya bagi biota di air tawar. Untuk itu, DLHK Klaten akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

"Langkah kita akan segera sosialisasi dan uji kualitas air kita lakukan setahun dua kali. Kegiatan dilakukan baik di hulu maupun di hilir," imbuh Dwi.

Dwi mencontohkan uji kualitas Sungai Lunyu Kota Klaten dilakukan di kawasan hulu dekat kantor BPBD dan di hilir Desa Merbung. Kadar kualitas air di hulu dan hilir tentu berbeda, sehingga akan diketahui penyebabnya.

"Baru kita ketahui antara titik pengambilan di hulu sampai ke hilir itu ada kegiatan apa yang menyebabkan pencemaran," sambung Dwi.

Dari pengujian itu, terang Dwi, didapatkan kandungan fosfat tinggi yang bisa disebabkan karena aktivitas rumah tangga dan pertanian. Bisa kegiatannya mencuci dengan sabun maupun obat pertanian.

"Fosfat tinggi bisa dari laundry, aktivitas pertanian, ternak di atas atau hilir menyebabkan oksigen berkurang. Juga dari septic tank yang meresap ke tanah," jelas Dwi.

Septic tank tersebut, ucap Dwi, menyebabkan kandungan bakteri e-coli tinggi di atas kadar maksimum 3000/100 ml air. Meskipun kebiasaan buang air di sungai (BABS) sudah semakin hilang.

"Bakteri dari parameter coliform juga tinggi. Sebab meskipun kebiasaan BABS sudah hilang, septic tank masih ada yang meresap ke sungai," tambah Dwi.

Dari 13 sungai itu, rinci Dwi, sebanyak 12 di antaranya ada di wilayah perkotaan dan satu di pedesaan dan mayoritas tercemar limbah domestik rumah tangga. Satu sungai di pedesaan itu adalah di sungai ke arah rawa Jombor.

"Di Sungai Rawa Jombor hasil BOD-nya tinggi di atas baku mutu. Selain sosialisasi kita juga akan lihat apa aktivitas warganya dalam waktu dekat," tutur Dwi.

Aktivis Sungai Glogok, Jalidin dan Lunyu (GOJALU), Supadi, tidak membantah kemungkinan pencemaran itu. Tapi bukan di sungai besarnya.

"Sungai besarnya kondisinya sudah baik, tapi dulu masih ada dibuang di sungai kecilnya. Untuk ikan yang mati sejauh ini tidak ada, kalau terbawa banjir mungkin saja tapi setiap ada yang nikahan masih melepas ikan ke sungai," ungkap Supadi pada detikcom.

Simak juga 'Laut Jakarta Tercemar Paracetamol, Amankah Konsumsi Ikan?':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/ams)