Dapat Ganti Rugi Tol Rp 4,3 M, Miliarder Klaten Buka Sekolah Seni Gratis

Achmad Syauqi - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 16:57 WIB
Warga terdampak tol, Agung Setiyoko, berdiri di rumah barunya sekaligus calon sekolah seninya, Klaten, Rabu (22/9/2021).
Warga terdampak tol, Agung Setiyoko, berdiri di rumah barunya sekaligus calon sekolah seninya, Klaten, Rabu (22/9/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Agung Setiyoko (43) warga Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, jadi miliarder setelah menerima uang ganti rugi proyek tol Yogya-Solo senilai Rp 4,3 miliar. Uang itu akan digunakannya untuk membangun sekolah seni gratis bagi masyarakat.

"Saya buat sekolah seni, nanti kita gratiskan untuk masyarakat. Masyarakat dari mana saja," kata Agung saat ditemui di lokasi pembangunan rumah sekaligus sekolah seni di Desa Segaran, Kecamatan Delanggu, Rabu (22/9/2021).

Agung yang akrab dipanggil Agung Bakar itu mengatakan sekolah seni itu nantinya akan dibuka beberapa kelas. Mulai dari pedalangan, karawitan, tari dan lainnya.

"Kita buka kelas pedalangan, karawitan secara kolektif, tari sampai bahasa Jawa. Nanti yang tari di samping sama bahasa," paparnya.

Di sekolah itu, lanjutnya, direncanakan pembelajaran kepada masyarakat termasuk kepada instansi atau individu. Pembelajaran akan bekerja sama dengan berbagai pihak.

"Kita secara kolektif ayo bersama latihan tari, karawitan atau pedalangan. Intinya melestarikan dan kalau bahasa Jawa kita bekerja sama dengan sekolah," jelasnya.

Sekolah seni itu merupakan kelanjutan dari kegiatannya sebagai seniman yang pernah dilakukan di rumah lama di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo.

"Kita baru awali, sementara kita baru road show gamelan untuk mendekatkan dengan masyarakat, kita datangi komunitas secara terbatas karena masih PPKM. Dulu pernah di rumah lama tapi kena tol," ujarnya.

Agung menyampaikan rumah lamanya seluas sekitar 400 meter persegi dengan bangunan dua lantai ludes terdampak tol. Dari uang ganti rugi Rp 4,3 miliar itu kemudian ia dibelikan lahan dan dibangun rumah sekaligus sekolah seni.

"Rumah saya habis kena tol, tapi bahan yang bisa kita pakai kita pakai. Target kita sederhana, misalnya belajar bahasa Jawa pulang ya bisa berbahasa Jawa krama pada orang yang lebih tua, bukan sekolah formal tapi kita tata dengan kurikulum," katanya.

Selengkapnya di halaman berikut...