Cerita Keseharian Keluarga 6 Tahun Tinggal di Kolong Angkringan

Ari Purnomo - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 15:50 WIB
Cahyo dan Wiwin terpaksa mengajak 9 anaknya tidur di warung hik miliknya karena diusir dari kontrakan.
Sekeluarga tinggal di kolong angkringan di Sukoharjo. (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Sukoharjo -

Sudah enam tahun Cahyo Yulianto (51) dan Wiwin Hariyati (48) tinggal di hik atau angkringan jalan Solo-Semarang, Sukoharjo, Jawa Tengah. Bahkan kini 7 anaknya juga diajak serta setelah mereka diusir dari kontrakan. Duka dan kepahitan mereka dialami semenjak tinggal di trotoar sembari berjualan.

Kepedihan dan kepahitan itu semakin dirasakan karena sejak empat hari yang lalu 7 anaknya juga ikut tinggal dan tidur bersama di lokasi yang kondisinya sangat terbatas itu.

Wiwin menceritakan bahwa spanduk penutup bagian depan gerobak angkringannya sempat sobek ketika diterpa angin dari truk yang melintas dengan kecepatan tinggi.

"Spanduk yang menutup bagian depan pernah sobek karena ada truk yang lewat. Sobek jadi dua. Kalau kena angin (bagian dalam warung) kelihatan semua," ujar Wiwin, Kamis (16/9/2021).

Selain itu, kondisi tenda yang menutup bagian warung juga sudah usang sehingga beberapa bagiannya rusak dan bocor saat diguyur hujan. "Kalau pas hujan ya bocor tendanya," ucapnya.

Tetapi, ia dan suaminya juga tidak bisa berbuat banyak mengingat memang tidak ada tempat berteduh lain yang bisa ditempati selain di warung dengan panjang lebih kurang 5 meter dan lebar 2 meter itu.

"Saya diusir dari rumah kontrakan karena dua bulan tidak bisa membayar. Sebenarnya saya mengontrak sudah empat bulan, tapi dua bulan nunggak jadi diminta keluar," tuturnya.

Untuk saat ini, Wiwin mengatakan, yang dibutuhkannya adalah tempat berteduh. Agar ketujuh anaknya itu bisa tinggal lebih nyaman dan tidak tidur di warung wedangan lagi.

"Seumpama saya tahu Pak Jokowi (Presiden) saya (ingin) dikontrakkan satu tahun. Rumah satu tahun," harap Wiwin.

Wiwin juga menyampaikan saat pandemi dirinya sempat didatangi petugas dari Satpol PP Sukoharjo. Petugas meminta agar dia tidak berjualan sampai pagi.

"Saya sampaikan kalau tidak sampai pagi ya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya iyakan saja, tapi ya saya tetap jualan sampai pagi," ungkapnya.

"Kalau sore saja sepi, jadi dilanjut jualan sampai pagi," kata Wiwin.

Sedangkan Cahyo menuturkan kesulitan membiayai pendidikan anak-anaknya. "Anak-anak sebenarnya masih sekolah, tapi perlengkapannya sudah rusak. Seperti sepatu, seragam dan perlengkapan rusak," ujar Cahyo.

Bahkan, anak ketujuhnya terpaksa putus sekolah saat duduk di kelas 2 SMP karena tidak adanya biaya dan kemudian bekerja ke pabrik roti. "Sempat bekerja di toko roti, tapi sudah di PHK karena pandemi," katanya.

Dari 13 anaknya, ada enam anak yang seharusnya masih bersekolah. Anak yang di tingkat SD ada juga yang sudah di bangku SMP.

(mbr/rih)