DLHK Jateng: Limbah Ciu di Bengawan Solo Diduga Dibuang Sore-Malam

Ari Purnomo - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 14:55 WIB
Hingga kini Sungai Bengawan Solo masih tercemar oleh limbah ciu. Kondisi limbah yang mencemari Bengawan Solo pagi ini lebih parah dari sebelumnya.
Kondisi limbah yang mencemari Bengawan Solo pagi ini lebih parah dari sebelumnya, Kamis (9/9/2021). (Foto: Agung Mardika)
Solo -

Bengawan Solo kembali tercemar limbah ciu dan mengakibatkan PDAM Solo menghentikan pengolahan air di intake Semanggi, Pasar Kliwon pagi tadi. Pembuangan limbah ke Bengawan Solo ini diduga dilakukan saat sore atau malam hari.

"Kita belum pernah melihat langsung pembuangannya. Kalau dari perjalanannya dari Samin ke Bengawan Solo, malam hari karena saya ke intake Semanggi pagi sudah berwarna seperti itu," ujar Kasi Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jateng Ari Warsito kepada wartawan, Kamis (9/9/2021).

"Kemungkinan, indikasi pembuangannya malam hari atau kalau tidak sore hari jam-jam magrib," sambungnya.

Aris menduga pencemaran yang terjadi di Bengawan Solo dan mengganggu operasional PDAM Solo itu disebabkan karena limbah industri ciu. Menurutnya perlu segera dibuat IPAL komunal untuk mengurangi pencemaran sungai.

"Penyumbangnya salah satu IKM (industri kecil menengah) limbah ciu. Solusinya jalan keluarnya harus dibangunkan IPAL (instalasi pengolahan air limbah)," urainya.

Aris menuturkan perlu segera dibuatkan IPAL komunal untuk industri ciu. Sehingga IKM yang belum memiliki IPAL tidak langsung membuang limbahnya ke Bengawan Solo.

"IPAL sudah diusulkan oleh KLHK, tetapi karena ada COVID-19 maka anggaran itu dialihkan ke COVID-19. DED sudah ada sebenarnya itu dari Kabupaten Sukoharjo," kata dia.

Tak hanya limbah industri ciu, Aris menyebut ada juga limbah dari industri pencucian batik yang mencemari Bengawan Solo.

"Penyumbang limbah di Bengawan Solo terbesar dari industri tekstil. Kalau dari IKM kemarin disampaikan ada dari industri ciu dan dari cucian batik," ujar Aris.

Sebelumnya DLHK Jateng mengungkap ada 63 industri menengah hingga besar yang mencemari Bengawan Solo. Empat di antaranya terancam pidana.

"Ada 63 perusahaan yang sudah kita awasi karena melanggar, kita berikan sanksi. 34 perusahaan sudah memperbaiki, 4 perusahaan kita bawa ke KLHK, sisanya sedang proses perbaikan," kata Plt Kepala DLHK Jateng, Widi Hartanto, kemarin.

(ams/sip)