Round-Up

Semarang Tenggelam 50 Tahun Lagi, Pekalongan Ambles 0,5 Cm Per Bulan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 20:32 WIB
Banjir rob di Terminal Terboyo Semarang, Jumat (2/6/2017).
Banjir rob di Terminal Terboyo Semarang, pada 2/6/2017. (Foto: Angling Adhitya Purbaya)
Semarang -

Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap prediksi tiga daerah di Jawa Tengah, yakni Semarang, Pekalongan dan Demak, akan tenggelam karena terus mengalami penurunan tanah. Prediksi itu ternyata didukung kajian dan sesuai fakta di lapangan.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip), Denny Nugroho Sugianto, menyebut kawasan pesisir di Kota Semarang dan sekitarnya diprediksi bakal tenggelam sekitar 50 tahun lagi.

"Jadi bisa lebih cepat dari 50 tahun. Yang tergenang itu sekarang di daerah Semarang Utara itu, di Tugu juga sudah mulai parah, perbatasan dengan Demak juga," kata Denny yang juga peneliti senior di Pusat Kajian Mitigasi Bencana dan Rehabilitasi Pesisir (PKMBRP) Undip, saat dihubungi detikcom, Rabu (4/8/2021).

"Keparahan terlihat ketika hujan awal tahun yang sampai banjir di Unissula, itu membuktikan drainase sudah tidak bisa membuang air ke laut dengan gravitasi karena tanahnya lebih rendah dari air laut," sambungnya.

Denny menyebut penyebab tenggelamnya Kota Semarang karena penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah yang masif. Selain itu, penurunan muka tanah di Semarang beragam dengan rata-rata 10-12 sentimeter per tahun.

"Penurunan tanah beragam ada 2 cm, 3 cm, 5 cm, sampai rata-rata 10-12 cm per tahun. Penggunaan air tanah berlebihan, jadi tanah cepat turun. Selain itu sifat sedimentasi di pantai Semarang itu sedimentasi aluvial. Pernah dengar kan dulu Semarang itu sampai daerah Sam Po Kong adalah perairan? Nah, ini seperti mau kembali," jelasnya.

Sedangkan Pemkot Pekalongan mencatat penurunan permukaan tanah sekitar 0,5 sentimeter per bulan atau 6 sentimeter per tahunnya. Hal ini merupakan hasil pengukuran Badan Geologi Nasional dari dua patok dalam BM (Benchmark) yang dipasang di sekitar Stadion Hoegeng dan di Pekalongan Selatan.

Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Anita Heru Kusumorini, menyebut ada pula patok-patok yang ditanam di kedalaman 50-150 sentimeter.

"Kalau kita lihat rata-rata per bulan, ada penurunan tanah 0,5 cm itu patok dalam di Stadion Hoegeng, penurunannya 6 cm per tahun," kata Anita saat dihubungi wartawan, Rabu (4/8/2021).

Lalu bagaimana dengan kondisi di Demak? Bupati Demak, Eisti'anah, mengaku sudah memikirkan hal tersebut. Salah satu penanganannya melalui tol Semarang-Demak yang juga terintegrasi dengan tanggul laut.

"Kita sudah merancangnya, dan menggait (menggandeng) dari (Pemerintah) Pusat, dan sebenarnya sudah ada penanganan termasuk salah satunya tol (Semarang-Demak) itu," kata Eisti, Rabu (4/8/2021).

Simak video 'Blak-blakan Dr Heri Andreas, Pekalongan & Semarang Lebih Dulu Tenggelam':

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/rih)