Diprediksi Tenggelam, Penurunan Tanah Pekalongan 0,5 Cm Per Bulan

Robby Bernardi - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 17:49 WIB
Patok pengukur penurunan muka tanah di Kota Pekalongan
Patok pengukur penurunan muka tanah di Kota Pekalongan (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Kota Pekalongan -

Kepala Laboratorium Geodesi dari ITB, Dr Heri Andreas memprediksi Kota Pekalongan, Demak dan Semarang terancam tenggelam karena penurunan permukaan tanah. Pemkot Pekalongan mencatat penurunan permukaan tanah sekitar 0,5 sentimeter per bulan atau 6 sentimeter per tahunnya.

Hal ini merupakan hasil pengukuran Badan Geologi Nasional dari dua patok dalam BM (Benchmark) yang dipasang di sekitar Stadion Hoegeng dan di Pekalongan Selatan. Kepala Bappeda Kota Pekalongan Anita Heru Kusumorini menyebut ada pula patok-patok yang ditanam di kedalaman 50-150 sentimeter.

"Kalau kita lihat rata-rata per bulan, ada penurunan tanah 0,5 cm itu patok dalam di Stadion Hoegeng, penurunannya 6 cm per tahun," kata Anita saat dihubungi wartawan, Rabu (4/8/2021).

Anita lalu menjelaskan terjadinya penurunan muka tanah atau land subsidence di Kota Pekalongan. Salah satunya karena jenis tanah Kota Pekalongan yang berupa endapan dan berusia muda.

"Penyebabnya, karena di Pekalongan itu merupakan tanah endapan yang usianya itu tergolong masih muda. Karena itu, secara alami akan terus mengalami penurunan," terang dia.

Kondisi ini diperparah, karena Kota Pekalongan tidak mempunyai sumber air di permukaan. Sehingga, banyak warga yang menggunakan sumber air tanah untuk pemenuhan kebutuhan air warga, industri, maupun lainnya.

"Kita di Kota Pekalongan sama sekali kita tidak memiliki sumber air di permukaan. Sehingga kebutuhan air dalam diambil untuk kebutuhan, termasuk untuk industri. Ini memperparah penurunan muka tanah," jelas Anita.

Pemkot Batasi Izin Sumur Tanah

Anita menyebut penurunan muka tanah diperparah dengan pengambilan air tanah yang masif. Tak hanya itu, pembangunan gedung bertingkat juga mempengaruhi penurunan muka tanah.

"Karena itu, kita sudah hentikan memberi rekomendasi untuk izin sumur tanah," katanya.

Anita menyebut izin penggalian sumur tanah diberikan oleh provinsi, sedangkan pihaknya sebatas memberikan rekomendasi. Belakangan ini pihaknya mengaku sudah tidak memberi rekomendasi soal izin penggalian sumur tanah, tapi masih banyak juga industri yang nakal dan mengebor sumur lebih dari satu.

"Padahal izinnya satu, tapi membuat sumurnya lebih dari satu, itu ada di sini. Kelemahannya kami tidak mempunyai alat untuk mendeteksi itu," ucapnya.

Di sisi lain, Pemkot juga berupaya untuk membatasi penggunaan sumur tanah. Pemkot Pekalongan pun menggandeng daerah tetangga untuk memenuhi suplai air.

"Salah satunya kita sudah bekerja sama dengan daerah tetangga yakni Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, untuk mensuplai kebutuhan air bersih ke Kota Pekalongan," jelas Anita.

Tak Cuma Tenggelam, Pekalongan Juga Terancam Banjir Rob

Selain penurunan muka tanah, Kota Pekalongan juga memiliki masalah dengan banjir rob. Dengan penurunan muka tanah ini, banjir rob akan lama surut.

"Ya masalah rob. Air laut naik yang masuk ke permukiman yang mengalami penurunan tanah. Tidak heran, air rob lama surutnya, dalam lima tahun terakhir ini," kata Anita.

"Jadi kita mulai melakukan perhitungan juga, terkait pembangunan tanggul pantai, sungai atau tanggul penahan rob. Untuk mengurangi penurunan permukaan tanah," sambungnya.

Anita menambahkan banyak kajian akademis yang meneliti terkait penurunan muka tanah Kota Pekalongan. Pihaknya pun merasa terbantu untuk mencari solusi dengan penelitian tersebut.

"Saat ini banyak kalangan akademik juga yang perhatian terkait penurunan permukaan tanah ini. Kita terbantukan untuk bersama-sama memecahkan persoalan ini," ucapnya.

(ams/sip)