Cerita Perajin Peti Mati Kerja Balapan dengan Petugas Pulasara Jenazah

Eko Susanto - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 18:58 WIB
Budiyanto perajin peti mati di Kabupaten Magelang
Budiyanto perajin peti mati di Kabupaten Magelang. (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Magelang -

Seorang perajin peti mati di Magelang, Jawa Tengah, Budiyanto (37), menceritakan pengalamannya balapan dengan petugas pulasara jenazah di rumah sakit. Sebab, saat petugas tersebut memandikan jenazah dia arus menyelesaikan peti dan mengirimkannya ke rumah sakit.

Budiyanto menyebut permintaan peti mati dari RSUD Muntilan mengalami peningkatan pada Juli ini. Dia bahkan mengaku kewalahan untuk memenuhi permintaan peti mati.

"Wah sempat (kewalahan), minggu kemarin saya kewalahan. Rumah sakit telepon ada jenazah, sana memandikan, saya buat, balapan. Ngoyak biar jenazah nggak telantar," kata Budiyanto yang biasa disapa Budi saat ditemui di rumahnya Dusun Pranan, Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, Jumat (23/7/2021).

Dia menuturkan pertengahan Juli ini dia sempat dihubungi pihak rumah sakit dini hari untuk membuat peti mati. Kala itu dia hanya punya waktu sekitar empat jam untuk menyelesaikan pesanan peti mati tersebut.

"Pertengahan bulan ini sempat kewalahan saya, kadang tengah malam, jam 3 (dini hari) itu sudah dibel nek iso gawe siji (dihubungi, kalau bisa bikin satu) jam 7 (pagi) kirim. Habis subuh buat, (langsung) kirim. Sekarang stok peti, jadi tinggal kirim," terang Budi.

Budi menuturkan mulanya dia hanya membuat furnitur seperti kosen-kosen, jendela, pintu dan lain-lainnya. Kemudian, sekitar bulan November 2020, tetangganya yang bekerja di RSUD Muntilan bagian memandikan jenazah datang meminta untuk membuat peti. Dia pun mengaku tak langsung menyanggupi pesanan tersebut.

"Sekitar bulan November 2020, ada tawaran. Saya pertama menolak karena masih banyak order buat jendela, kusen. Tiga minggu kemudian ke sini lagi nyuruh buat peti itu. Saya sanggup," kenang Budi yang mengaku mulai membuat peti awal Desember 2020 silam.

Peti mati yang dia buat berbahan kayu mahoni dengan ukuran panjang 2 meter, dengan lebar untuk bagian kepala 60 cm dan lebar di bagian kaki 50. Kemudian tinggi peti itu 40 cm dan di bagian dalamnya dilapisi kain mori.

Budi menjual satu peti mati buatannya dengan harga Rp 1,25juta. Budi menuturkan pesanan peti mati setelah Lebaran membeludak.

"Sebelum Lebaran itu cuma seminggu kirim kadang empat, tiga. Kadang seminggu nggak kirim sama sekali. Habis Lebaran ini, banter. Seminggu, kirim dua hari sekali, kadang seminggu 12 peti. Kadang 8, nggak mesti, tergantung permintaan," ujar dia.

Selama meningkatnya permintaan peti mati, Budi mengaku dibantu oleh keluarga dan tetangganya. Istrinya pun ikut membantu untuk melapisi bagian dalam peti dengan kain mori.

"Kadang anak saya. Kadang teman, tetangga sebelah sama istri saya masang kain mori dalamnya dan butik," tutur suami dari Wiji Lestari, itu.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...