Pegadaian Area Pati Nambah 2.000 Nasabah Baru Selama PPKM Darurat

Dian Utoro Aji - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 14:54 WIB
Suasana Kantor Pegadaian Kudus, 21/7/2021
Suasana Kantor Pegadaian Kudus, Rabu (21/7/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Nasabah baru kantor pegadaian di area Pati, Jateng, mengalami peningkatan tajam selama PPKM Darurat. Jumlah nasabah baru itu bahkan hingga mencapai 2.000 orang.

"Masih ada peningkatan nasabah baru, yang dulu tidak menggadai sekarang gadai karena mungkin 'mendesak' sehingga mengambil," kata Marketing Executive PT Pegadaian Area Pati, Mohammad Jalu, kepada wartawan saat ditemui di PT Pegadaian Cabang Kudus, Rabu (21/7/2021).

"Untuk nasabah kita di area Pati itu ada 300 ribu nasabah. Kenaikan 1.000 sampai 2.000 nasabah baru. Kita pantauannya se eks-Keresidenan Pati," sambung dia.

Jumlah nasabah baru terjadi di wilayah industri. Seperti Kudus dan Jepara. Sedangkan daerah pesisir seperti Rembang dan Pati mengalami penurunan nasabah baru.

"Untuk seperti Rembang ada penurunan, tapi kota industri seperti Kudus, Jepara malah tambah," jelas Jalu.

"Khusus area Pati gadai sendiri masih ramai, karena orang yang dulu itu tidak pernah gadai karena mereka membutuhkan dana yang cepat kemudian 15 menit bisa cair bawa barang, akhirnya mereka main ke pegadaian," lanjutnya.

Jalu menjelaskan barang yang paling banyak digadai adalah emas. Kemudian kendaraan dan barang elektronik.

Menurutnya di tengah pandemi, masyarakat tidak memaksimalkan nilai barang gadai. Mereka hanya membutuhkan sesuai kebutuhan saja. Dalam sehari disebutkan ada 50 sampai 60 nasabah baru datang ke pegadaian.

"Karena sekarang, dulu ada nasabah besar ya. Itu bisa gadai Rp 10 juta. Karena PPKM kekuatan angsur tidak segitu akhirnya barang jaminan dia ambil Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. PPKM ini mempengaruhi teman UMKM mengambil spekulatif," jelasnya.

Jalu menambahkan meskipun nasabah baru mengalami kenaikan namun pinjaman mengalami penurunan. Pertama karena nasabah lama tidak kuat menebus barang gadaian. Kedua nasabah baru kebanyakan tidak memaksimalkan nilai harga barang gadaian.

"Kondisi sekarang juga diimbangi nasabah lama, dulu sering gadai akhirnya di pandemi khusus PPKM juga terhalang proses gadainya. Orang gadai itu kan diperpanjang kalau bisa ditebus. Nah biasanya satu tahun gadai empat bulan, setahun bisa empat kali. Karena PPKM ini akhirnya nasabah tidak bisa perpanjang. Itu menyebabkan saluran pinjaman di pegadaian mengalami penurunan," tambah Jalu.

(mbr/rih)