Round-Up

7 Bocah Tersangka Perusakan Makam di Solo, Murid Rumah Belajar Agama

Ari Purnomo - detikNews
Kamis, 01 Jul 2021 08:39 WIB
Perusakan sejumlah makam di TPU Cemoro Kembar, Solo oleh anak-anak mendapat perhatian serius. Kini masyarakat dibantu Babinsa dan Babinkamtibmas mulai melakukan perbaikan.
Perbaikan makam di Solo yang dirusak anak-anak (Foto: Agung Mardika/detikcom)
Jakarta -

Kasus perusakan makam di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, Solo menemui babak baru. 7 bocah ditetapkan sebagai tersangka.

Berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan tim penyidik Polresta Solo, ada tujuh tersangka yang ditetapkan dalam kasus tersebut.

Tujuh tersangka keseluruhan merupakan murid dari rumah belajar agama atau kuttab yang ada tidak jauh dari lokasi. Sementara, pengasuh atau pengajar di kuttab hanya dimintai keterangan sebagai saksi.

"Dari hasil gelar perkara yang sudah dilakukan oleh tim penyidik ditetapkan tersangka perusakan, ada tujuh anak," jelas Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak saat ditemui wartawan di Balai Kota Solo, Rabu (30/6).

"Seluruh tersangka adalah anak-anak yang melakukan perusakan makam itu," sambungnya.

Ade menambahkan, mengingat para pelaku perusakan makam masih di bawah umur dan di bawah batas usia maka ada perlakuan berbeda terhadap para tersangka. Polisi akan mengupayakan adanya diversi mengingat para tersangka masih di bawah umur dan bahkan ada yang di bawah 12 tahun.

"Mekanisme penyelesaian perkara dalam kasus perusakan makam di Mojo itu ada dua area batasan umur anak. Kita merujuk pada UU Sistem peradilan terhadap anak ada batasan umur anak," katanya.

Dalam kasus ini, Ade melanjutkan, ada dua area yakni anak berusia 12 tahun ke bawah dan anak di atas 12 tahun dan sebelum 18 tahun. Untuk penyelesaian kasus hukum anak di atas 12 tahun dan sebelum 18 tahun maka ada upaya dilakukan diversi.

"Kita upayakan diversi dalam semua tingkat mulai dari pemeriksaan, baik itu di tingkat Polri, penuntutan kejaksaan maupun di pengadilan," katanya.

Langkah ini yakni dengan mempertemukan para pihak terkait, baik pelaku maupun korban atau yang dirugikan untuk mencapai kesepakatan diversi. Jika nantinya dalam pertemuan ini terjadi kesepakatan diversi maka akan dibuatkan berita acara.

"Berita acara kesepakatan diversi akan dikirimkan ke pengadilan dan dilakukan penetapan. Dasar itulah yang akan dijadikan penyidik untuk mengeluarkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3)," tutur Ade.

Tetapi, apabila tidak tercapai kesepakatan diversi maka akan dibuat berita acara tidak adanya kesepakatan. Dan tindak lanjutnya berkas dilimpahkan ke penuntut umum.

"Sedangkan bagi anak yang masih di bawah 12 tahun, berbeda penyelesaiannya. Hasil pemeriksaannya tidak digunakan untuk peradilan pidana, hasilnya akan dirapatkan tiga unsur yakni penyidik, Bapas, Peksos (pekerja sosial)," ungkapnya.

Selanjutnya: Rumah belajar anak-anak bermasalah dengan hukum itu akan segera dipindah

Simak video 'Belasan Makam di Solo yang Dirusak Kini Diperbaiki':

[Gambas:Video 20detik]