7 Tersangka Perusakan Makam Solo Masih Bocah, Polisi Upayakan Diversi

Ari Purnomo - detikNews
Rabu, 30 Jun 2021 16:03 WIB
Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, Minggu (23/5/2021).
Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak. (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Polresta Solo melakukan penanganan berbeda terhadap 7 tersangka kasus perusakan makam di TPU Cemoro Kembar Kelurahan Mojo, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Polisi mengupayakan jalur diversi karena para tersangka masih anak-anak di bawah umur.

Polisi akan mengupayakan adanya diversi mengingat para tersangka masih di bawah umur dan bahkan ada yang di bawah 12 tahun.

"Mekanisme penyelesaian perkara dalam kasus perusakan makam di Mojo itu ada dua area batasan umur anak. Kita merujuk pada UU Sistem peradilan terhadap anak ada batasan umur anak," ujar Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak saat ditemui wartawan di Balai Kota, Solo, Rabu (30/6)2021).

Dalam kasus ini, Ade menjelaskan, ada dua kelompok di bawah umur yakni anak berusia 12 tahun ke bawah dan anak di atas 12 tahun tapi belum 18 tahun. Untuk penyelesaian kasus hukum anak di atas 12 tahun dan sebelum 18 tahun yakni upaya diversi.

"Kita upayakan diversi dalam semua tingkat mulai dari pemeriksaan, baik itu di tingkat Polri, penuntutan kejaksaan maupun di pengadilan," katanya.

Langkah ini adalah dengan mempertemukan para pihak baik pelaku maupun korban atau yang dirugikan untuk mencapai kesepakatan diversi. Jika nantinya dalam pertemuan ini terjadi kesepakatan diversi maka akan dibuatkan berita acara.

"Berita acara kesepakatan diversi akan dikirimkan ke pengadilan dan dilakukan penetapan. Dasar itulah yang akan dijadikan penyidik untuk mengeluarkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3)," tutur Ade.

Tetapi, sambungnya, apabila tidak tercapai kesepakatan diversi, maka akan dibuat berita acara tidak adanya kesepakatan. Dan tindak lanjutnya berkas dilimpahkan ke penuntut umum.

"Kemudian bagi anak yang masih di bawah 12 tahun, berbeda penyelesaiannya. Hasil pemeriksaannya tidak digunakan untuk peradilan pidana, hasilnya akan dirapatkan tiga unsur yakni penyidik, Bapas, Peksos (pekerja sosial)," ungkapnya.

Nantinya akan diputuskan apakah anak akan dikembalikan kepada orang tua, atau dikirimkan ke dinas sosial (Dinsos) atau yang lainnya. "Hal ini karena di arena ini anak yang belum 12 tahun dianggap belum bisa dimintai pertanggungjawaban pidana dari apa yang dilakukannya," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa dari kuttab (rumah belajar) diduga melakukan perusakan makam di TPU Cemoro Kembar, yang ada di Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, Solo.

Akibat perbuatan para siswa tersebut ada sejumlah nisan yang rusak. Sejumlah tokoh masyarakat, TNI dan Polri kemudian mengadakan kerja bakti untuk melakukan perbaikan makam yang rusak.

(mbr/sip)