Kisah Perjuangan Ibu Tunggal Punya 14 Anak di Pemalang

Robby Bernardi - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 17:21 WIB
Ibu tunggal, Sriyanti yang menghidupi 12 anak dan seorang cucu di Pemalang, Sabtu (8/2/2021).
Sriyanti di rumahnya, Pemalang, Sabtu (8/5/2021). (Robby Bernardi/detikcom)
Pemalang -

Seorang ibu tunggal di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Sriyanti (44) berjuang menghidupi belasan orang anaknya seorang diri. Setelah ditinggal suami setahun lalu, dia kini juga harus menanggung beban utang puluhan juta rupiah sendirian.

Sriyanti sebenarnya memiliki 15 orang anak. Namun seorang di antaranya telah meninggal dunia, dan dua anak lainnya sudah menikah. Kini dia tinggal bersama 12 anak dan seorang cucu di sebagian rumah warisan keluarganya yang berukuran 3x6 meter, Desa Wanareja Utara, Kecamatan Taman, Pemalang.

Masing-masing dari 12 anak yang masih tercantum di kartu keluarga (KK) Sriyanti berumur 1 tahun, 2, 3, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, dan 16 tahun. Untuk mencatat daftar anggota keluarga Sriyanti, KK miliknya mencapai dua lembar.

Sedangkan dua anaknya yang sudah menikah kini berusia masing-masing 27 tahun.

"Kalau jumlah semuanya ada 15 anak. Satu anak saya meninggal, karena sakit. Dua lainnya sudah menikah. Ini malah dititipi satu cucu," kata Sriyanti saat ditemui detikcom di rumahnya Sabtu (8/5/2021).

"Suami saya meninggal sekitar setahun yang lalu karena sakit. Malah saya harus membayar utang ke saudara untuk biaya berobat suami Rp 25 juta," lanjut dia.

Untuk menghidupi anak-anaknya, Sriyanti berjualan dawet. Namun dia tak bisa bekerja dalam waktu lama karena harus menjaga anak-anaknya yang kebanyakan masih kecil.

"Ya alhamdulillah, cukup lah untuk makan. Sehari biasanya saya dapat Rp 70 ribu atau Rp 50 ribu," ucapnya.

Saat diwawancara detikcom, Sriyanti tampak sibuk membagi perhatiannya dengan anak-anaknya yang masih kecil dan berebut untuk digendong. Beberapa bahkan menangis bersama-sama.

"Ya begini ini repotnya. Tapi saya syukuri karena ini sudah menjadi garis-Nya," kata Sriyanti.

Kini anaknya yang berusia 16 tahun harus bekerja menjadi asisten rumah tangga di Pekalongan. Setelah SMA, anak ke-3 Sriyanti bahkan tak mengambil ijazahnya karena alasan biaya.

"Malah ijazahnya belum diambil, ada kekurangan uang," tuturnya.

Sriyanti kini dibantu putri nomor empat untuk mengurusi anak-anaknya yang masih kecil.

"Ya kita semua gotong royong di sini, saling membantu. Repotnya kalau yang kecil-kecil sakit. Seperti saat ini, yang paling bungsu sakit. Saya tidak bisa jualan," cerita Sriyanti.

"Ya sekuat tenaga. Yang penting saya diberi kesehatan dan kecukupan, saya sudah alhamdulillah," imbuh dia.

Selanjutnya, kata kepala desa tempat tinggal Sriyanti...

Selanjutnya
Halaman
1 2