Nelangsa Para Porter di Stasiun Balapan Solo di Tengah Larangan Mudik

Ari Purnomo - detikNews
Jumat, 30 Apr 2021 15:10 WIB
Porter di Stasiun Balapan, Solo, Jumat (30/4/2021).
Porter di Stasiun Balapan, Solo, Jumat (30/4/2021). (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Kebijakan larangan mudik yang berlaku mulai tanggal 6-17 Mei 2021 memberikan dampak bagi sejumlah sektor. Mulai dari jasa transportasi hingga jasa angkut barang seperti porter salah satunya di Stasiun Balapan, Solo, Jawa Tengah.

Salah seorang porter di Stasiun Balapan Solo, Sugeng, mengatakan momen Lebaran atau mudik menjadi saat yang paling ditunggu olehnya dan porter-porter lain.

"Biasanya kalau pas mudik banyak masyarakat yang akan pulang kampung, tetapi untuk tahun ini dan kemarin sudah dilarang," kata Sugeng kepada detikcom, Jumat (30/4/2021).

Pria 54 tahun itu mengatakan biasanya saat ada arus mudik dalam sehari dirinya bisa membawa pulang penghasilan hingga Rp 300 ribu. Namun tidak adanya mudik membuat penghasilannya akan jauh berkurang.

"Kalau kondisi seperti ini paling bisa membawa pulang Rp 50 ribu saja sehari," ucapnya.

Pria yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi pembawa barang penumpang kereta itu mengungkap dirinya juga tidak bisa berharap banyak dengan adanya kebijakan ini.

"Ya aturannya seperti itu (dilarang mudik) ya kita mengikuti saja," ujarnya.

Padahal, porter menjadi pekerjaan utama pria asli Solo ini. Sepinya penumpang bahkan membuat sejumlah porter harus mencari pekerjaan lain untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

"Dulu jumlah porter cukup banyak, tetapi sekarang banyak yang beralih ke pekerjaan lain. Kalau saya tetap jadi porter," urainya.

Agar tetap bisa membawa pulang uang, Sugeng hanya bekerja saat ada kereta jarak jauh. "Kalau KRL atau dari Yogya biasanya barang bawaan juga tidak banyak, jadi kalau ada kereta jarak jauh baru berangkat (kerja)," ungkapnya.

Hal yang sama disampaikan porter bernama Suwandi. Pria asal Sragen itu mengatakan stasiun saat ini sudah semakin sepi.

"Ya kalau pas ramai bisa sampai Rp 80.000 per harinya, kalau sekarang ini baru dapat Rp 10.000," katanya.

(sip/mbr)