Round-Up

Ricuh Aksi Tolak Tambang di Purworejo, Polisi Tuding Ulah Anarko

Rinto Heksantoro - detikNews
Minggu, 25 Apr 2021 09:20 WIB
Massa aksi bendungan Bener yang ditangkap polisi
11 perserta aksi ricuh di Purworejo saat ditangkap. (Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo -

11 orang ditangkap polisi dan 9 orang terluka saat demo ricuh tolak rencana pelaksanaan quarry untuk pembangunan Mega Proyek Bendungan Bener di Purworejo, Jateng. Meski dinilai represif, namun polisi menegaskan tindakannya sesuai prosedur dan balik menudng demo ricuh itu ditunggangi anarko.

Ratusan warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo melakukan aksi penutupan akses jalan utama menuju Desa Wadas, Jumat (23/4). Blokade jalan dengan pepohonan dan batu itu dilakukan sebagai bentuk penolakan atas rencana penambangan batu andesit yang akan digunakan untuk pembangunan Bendung Bener.

Aparat gabungan dari Polres, Brimob dan Kodim 0708 Purworejo yang datang ke lokasi dan justru akhirnya bentrok dengan massa aksi. "Kemudian berujung dengan tindakan anarkis. Upaya-upaya preemtif komunikasi dan mengajak dialog sudah kami upayakan namun tidak diindahkan dan ada upaya provokatif, pelemparan batu dan kayu kepada aparat sehingga kami bubarkan," papar Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito, Jumat (23/4) malam.

"Anggota kami yang luka-luka ada lima orang dan kami amankan 11 orang yang diduga sebagai provokator, bahkan beberapa di antaranya bukan warga Wadas, bahkan luar Purworejo," lanjutnya.

Setelah sempat diamankan dan dimintai keterangan, 11 orang yang diduga sebagai provokator tersebut akhirnya dibebaskan. "Kita lepas karena sudah selesai pemeriksaan dan hasil tes urine semua negatif (narkoba). Yang lima warga Wadas kami kembalikan melalui Polsek Bener dan enam luar warga Wadas kami kembalikan ke kuasa hukumnya," kata Kapolres Purworejo , Sabtu (24/4).

Sementara itu, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Yogi Zul Fadhli datang ke Mapolres Purworejo untuk mendampingi ke-11 orang yang diamankan tersebut. YLBHI melihat ada tindakan represif yang dilakukan oleh Kepolisian Puworejo terhadap warga.

"Ada pelanggaran hukum yang serius. Jadi polisi yang hadir di Wadas terindikasi melakukan tindak pidana. Pertama, melakukan kekerasan, kedua (melanggar) UU bantuan hukum, kemudian UU advokat," kata Ketua YLBHI Asfinawati kepada wartawan dalam jumpa pers yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (24/4).

Asfinawati juga mempermasalahkan adanya pemeriksaan urine terhadap 11 orang yang ditangkap polisi imbas aksi tolak tambang batu andesit di Desa Wadas, Purworejo. Menurutnya, hal itu termasuk dalam pelanggaran KUHAP.

"Jadi ada pelanggaran KUHAP sebenarnya yang dilakukan oleh para aparat dalam menjalankan fungsi-fungsi penyidikan. Seolah-olah mereka punya wewenang memeriksa urine. Tapi sebetulnya sumber dasar otoritas tidak ada karena kasusnya tidak ada," sebutnya.

Sementara itu, Kapolres Purworejo membantah telah melakukan tindakan represif. Pihaknya bahkan menegaskan tindakan yang dilakukan sesuai prosedur dan menuding demo ricuh itu ditunggangi anarko.

"Kami sudah melakukan berbagai upaya. Teman-teman wartawan yang ikut meliput pasti bisa melihat mana warga Wadas dan mana yang bukan. Kita bisa lihat siapa yang aktif menyerang, Polisi tidak membalas. Kami duga kelompok anarko ada di balik aksi kemarin. Kami sudah mengantongi data-datanya," beber Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito, Sabtu (24/4).

Simak juga 'BIN Bicara Gerakan Anarko':

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/mbr)