Polisi Duga Demo Ricuh Tolak Tambang Purworejo Ditunggangi Anarko

Rinto Heksantoro - detikNews
Sabtu, 24 Apr 2021 19:37 WIB
Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito didampingi Direktur Intel dan Keamanan Polda Jateng, Kombes Jati Wiyoto Abadi dan Kepala Kesbangpolinmas Provinsi Jateng, Haerudin. Foto diambil Sabtu (24/4/2021) di Mapolres Purworejo.
Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito didampingi Direktur Intel dan Keamanan Polda Jateng Kombes Jati Wiyoto Abadi serta Kepala Kesbangpolinmas Provinsi Jateng Haerudin. (Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo -

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai polisi represif karena menangkap 11 orang dan mengakibatkan 9 orang terluka seusai demo ricuh tolak tambang batu andesit di Desa Wadas, Purworejo. Polisi menegaskan tindakannya sesuai prosedur dan menuding demo ricuh itu ditunggangi anarko.

"Kami sudah melakukan berbagai upaya. Teman-teman wartawan yang ikut meliput pasti bisa melihat mana warga Wadas dan mana yang bukan. Kita bisa lihat siapa yang aktif menyerang, Polisi tidak membalas. Kami duga kelompok anarko ada di balik aksi kemarin. Kami sudah mengantongi data-datanya," beber Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito saat ditemui detikcom di kantornya, Sabtu (24/4/2021).

Hadir mendampingi Marito, ada Direktur Intel dan Keamanan (Dirintelkam) Polda Jateng Kombes Jati Wiyoto Abadi dan Kepala Kesbangpolinmas Provinsi Jateng Haerudin. Kehadiran tim dari Polda Jateng ini, kata Marito, menunjukkan isu tersebut menjadi isu nasional.

Marito menyebut pihaknya telah melakukan upaya persuasif untuk mengamankan aksi tolak tambang di Desa Wadas, Purworejo, itu. Namun, karena tidak diindahkan warga, pihaknya akhirnya mengamankan sebelas orang yang diduga sebagai provokator aksi.

"Anggota kami yang luka-luka ada lima orang, dan kami amankan sebelas orang yang diduga sebagai provokator, bahkan beberapa di antaranya bukan warga Wadas, bahkan luar Purworejo. Karena sudah selesai dimintai keterangan, sebelas orang itu sudah kami lepas," jelasnya.

"Mereka itu dari luar Purworejo, bahkan kami tidak mengenali siapa pendamping hukumnya. Setelah kami amankan karena melawan dan provokatif, baru dia mengaku dari LBH Yogyakarta. Padahal dia sudah saya ajak dialog, tapi tidak menghiraukan," cetus Marito.

Marito juga menyebut beberapa oknum yang terlibat demo ricuh di Desa Wadas, Purworejo, Jumat (23/4) itu merupakan orang yang sama saat demo tolak omnibus law. "Kemarin pas ada demo penolakan omnibus law juga ada orang yang sama dengan yang ikut aksi di Desa Wadas," terang Marito.

Sebelumnya diberitakan, YLBHI menyebut ada tindakan represif yang dilakukan oleh Kepolisian Purworejo terhadap warga Desa Wadas yang menolak sosialisasi pemasangan patok penambangan batu andesit di Desa Wadas. Akibat tindakan represif itu, sebelas orang ditangkap dan sembilan orang mengalami luka-luka.

Dari sebelas orang yang ditangkap, dua orang di antaranya adalah Pengabdi Bantuan Hukum (PBH) dan Asisten Pengabdi Bantuan Hukum (APBH) dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. YLBHI menilai ada pelanggaran hukum serius dalam kasus ini.

"Ada pelanggaran hukum yang serius. Jadi polisi yang hadir di Wadas terindikasi melakukan tindak pidana. Pertama, melakukan kekerasan, kedua (melanggar) UU bantuan hukum, kemudian UU advokat," kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati kepada wartawan dalam jumpa pers yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (24/4).

Asfinawati menyebut pihaknya tengah mempertimbangkan mekanisme pelanggaran HAM ke PBB. Upaya ini dilakukan agar tindakan represif aparat tidak berulang.

"Satu lagi kami juga akan mengadukan peristiwa ini ke mekanisme HAM PBB dan lain-lain dan jangan lupa Indonesia itu punya kewajiban untuk hak antipenyiksaan dan lain-lain dan kami akan mengadukan ini sebagai tindakan yang sudah berulang dan tidak sesuai dengan demokrasi Indonesia," tegasnya.

Lihat juga Video: Tolak Tambang Zirkon, Massa Geruduk DPRD Sulbar

[Gambas:Video 20detik]



(ams/ams)