Bencana Tanah Gerak di Watukumpul Pemalang, Puluhan Rumah Rusak

Robby Bernardi - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 15:30 WIB
Tanah bergerak merusak rumah warga di Pemalang, Selasa (6/4/2021).
Tanah bergerak merusak rumah warga di Pemalang, Selasa (6/4/2021). (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Pemalang - Bencana tanah gerak terjadi di Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Sebanyak 24 rumah rusak terdampak tanah gerak di wilayah ini.

"Yang terparah tahun ini. Makanya dipasang EWS, agar warga dapat peringatan dini dari bunyi sirine. Total ada 24 rumah (rusak) yang terdiri dari 25 KK," ujar Kepala Desa Majakerja, Kecamatan Watukumpul, Kuswadi, kepada wartawan, Selasa (6/4/2021).

Pihak desa telah menyiapkan lokasi untuk relokasi warga terdampak di tanah bengkok. Namun teknis relokasinya hingga saat ini masih dikaji.

"Kita sudah menyiapkan tanah relokasi untuk warga, dengan menggunakan tanah bengkok, seluas enam ribu meter," kata dia.

Ketua RT 07 daerah itu, Uminingsih, menambahkan kejadian tanah gerak di lokasi tersebut sudah lama terjadi. Namun peristiwa ini semakin parah saat musim hujan tahun ini.

"Kejadiannya tanah bergerak sudah lama. Hanya, memang yang paling parah musim penghujan tahun ini. Satu rumah roboh, dua KK sudah mengungsi," kata dia kepada wartawan hari ini.

Selain pemukiman, tanah bergerak juga membuat jalan desa ambles dan retak-retak di beberapa titik. Bahkan, tanah bergerak juga membuat sebuah pohon aren, bergeser sekitar 30 meter, dari titik awalnya.

Dia mengaku sudah tahu soal rencana relokasi warga terdampak tanah bergerak. Namun menurutnya, warga masih ingin bertahan di rumah mereka masing-masing.

"Ada dua EWS (early warning system) yang dipasang. Jadi kalau tanahnya bergerak, bunyinya (pengeras suara) seperti (sirine) ambulans. Kalau hujan lebih dari 70 cc, bunyinya tot... tot... tot..., gitu. Kalau bunyi (seperti sirine) ambulans, warga harus segera bergerak," jelasnya.

Dia mengungkap dusun tersebut sudah memiliki tanda petunjuk arah evakuasi dan titik kumpul lokasi pengungsian.

Salah seorang warga terdampak di RT 07, Astuti, menceritakan dinding bagian depan rumahnya roboh gegara tanah bergerak. Tak hanya itu, lantainya juga rusak dan retak-retak. Meski begitu, dia dan keluarganya masih bertahan di rumah tersebut.

"Iya masih kami tempati. Ya karena tidak ada pilihan lainnya. Kondisi seperti ini sudah sebulan, terparah saat musim hujan seperti saat ini," kata Astuti saat ditemui detikcom di rumahnya hari ini.

"Paling kalau lagi hujan memang takut. Takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak, tidak mengungsi," lanjut dia.

Astuti mengakui pihak desa berencana akan merelokasi warga setempat yang terdampak tanah gerak. "Kalau menurut saya pribadi sih saya tidak mau pindah. Maunya direnovasi saja rumah ini," katanya. (sip/mbr)