MUI Jateng Soal Serangan di Makassar-Mabes Polri: Terorisme Rusak Ukhuwah

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 18:24 WIB
Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji, Kamis (1/4/2021).
Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah menilai serangan teroris di Makassar dan Mabes Polri merugikan umat Islam karena merusak ukhuwah dan menimbulkan kecurigaan. Memilih penceramah yang jauh dari radikalisme dinilai cukup penting agar tidak lagi terjadi salah pemahaman karena Islam sebenarnya mengajarkan kasih sayang, bukan teror.

Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji, mengatakan memang ada yang menyinggung soal sertifikasi ulama, namun menurutnya tidak disertifikasi pun banyak ulama yang tidak radikal. Maka jemaah bisa memilih ulama atau penceramah yang tidak radikal.

"Jemaah memilih mubalig, penceramah, dan khatib yang tidak garis keras, tidak radikal," kata Darodji ditemui di kantornya, Kamis (1/4/2021).

Ia menegaskan paham radikal merupakan penerapan dari salah kaprah soal arti jihad. Darodji menegaskan jihad berarti berjuang bukan berperang, bukan juga berarti saling membenci kemudian melakukan teror.

"Jihad bukan berarti perang tapi berjuang. Di Al-Qur'an jihad lah dengan uangmu dan dirimu. Dengan dirimu itu misal kerja bakti. Jadi tidak ada perang. Jihad harus dikembalikan ke makna aslinya. Berjuang," jelasnya.

"Manusia harus hablumminallah dan hablumminannas. Hadis Nabi bagaimana Nabi bertoleransi dan bersahabat," imbuhnya.

Ia menegaskan dampak dari aksi teror yang mengatasnamakan Islam sangat merugikan. Selain munculnya korban, juga menimbulkan kecurigaan terhadap umat Muslim.

"Terorisme itu merusak hubungan kita dan ukhuwah kita. Satu orang salah dan bunuh diri, kecurigaan pada umat Islam banyak, kan merugikan kita. Kasihan yang tidak berbuat dan kasihan korban. Dalam Islam dikembangkan kasih sayang, tidak ada mengajarkan kasih sayang dengan marah. Orang Islam itu disuruh tebar kasih sayang bukan terorisme, bukan ketakutan. Ayo kembalikan pada ide kita pada komitmen menjaga Islam rahmatan lil'alamin. Wujudkan itu dengan cara bagus, berdakwah yang sesuai," urai Dardji.

Darodji kembali menegaskan soal ajaran menghargai pemeluk agama lain yang sudah ada dalam hadis dan kisah Nabi Muhammad SAW.

"Nabi itu mengajarkan Islam dengan cara damai, bagaimana toleran dengan Yahudi, Nasrani, dan agama lain. Sudah dicontohkan Nabi, jadi kenapa tidak mengikuti Nabi," tegasnya.

Darodji menilai mungkin masih ada pendakwah radikal tapi jumlahnya sudah ditekan. Langkah yang sudah dilakukan selama ini dengan deradikalisasi dari berbagai pihak termasuk Densus 88.

"Insyaallah sudah makin kendo (kendor) dan berkurang karena orang makin menyadari," jelasnya.

Untuk diketahui, aksi teror berupa bom bunuh diri terjadi di Gereja Katedral Makassar hari Minggu (28/3) lalu. Dua bomber yang merupakan suami istri tewas dan sejumlah orang luka-luka. Kemudian hari Rabu (31/3) kemarin seorang perempuan menyerang Mabes Polri hingga akhirnya ditembak mati di tempat.

(sip/rih)