ADVERTISEMENT

Kisah Pohon Tembaga di Balik Sejarah Cikal Bakal Banyumas

Arbi Anugrah - detikNews
Minggu, 14 Mar 2021 08:43 WIB
Kisah pohon Tembaga di balik cikal bakal Kabupaten Banyumas, Minggu (14/3/2021).
Kisah pohon Tembaga di balik cikal bakal Kabupaten Banyumas, Minggu (14/3/2021). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas -

Suasana di sebuah desa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah sangat asri dengan hamparan sawah dan kesibukan para petani menjemur padi. Saat itu seorang pria paruh baya yang tinggal di desa bernama Pasinggangan, Kecamatan Banyumas tengah tampak sibuk membersihkan mobil tua berwarna biru di halaman rumahnya.

Pria tersebut bernama Gitosewojo (85) atau dikenal dengan nama Eyang Gito, seorang tokoh masyarakat di wilayah tersebut. Eyang Gito merupakan sesepuh yang ikut terlibat bersama pemerintahan setempat terkait kisah cikal bakal Banyumas. Dia mulai menceritakan asal muasal berdirinya Kadipaten Banyumas kala itu (sekarang Kabupaten Banyumas) dengan merujuk pada sebuah tulisan sejarah berbahasa Jawa yang dibacanya dari Perpustakaan Penerangan Kecamatan Banyumas. Dia mengatakan telah membaca buku itu sejak tahun 1956.

Dari buku tersebut, dia mengisahkan berdirinya Kadipaten Banyumas berkaitan dengan keberadaan pohon tembaga di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas. Kisah itu tercatat dalam kisah Babad Banyumas.

Kala itu wilayah Banyumas termasuk bagian dari wilayah Kadipaten Wirasaba (sekarang terletak di Purbalingga) dipimpin oleh Adipati Wirasaba yang wafat karena dibunuh oleh utusan dari Kesultanan Pajang pada tahun 1557.

Hingga kemudian digantikan oleh putra menantunya yang bernama Raden Joko Kaiman atau Raden Bagus Semangun. Dia yang akhirnya menggantikan menjadi penguasa di Kadipaten Wirasaba kala itu dan diberi gelar oleh Sultan Pajang menjadi Adipati Wargo Utomo ke II, karena Adipati Wirasaba yang dibunuh itu bergelar Adipati Wargo Utomo I.

Adipati Wargo Utamo II mendapat wangsit agar membuka tempat baru yang berada di barat laut Desa Kejawar yang memiliki pohon tembaga jika ingin lestari dalam menjalankan tugas sebagai adipati.

"Yen sira pengin lestari nggonira jumeneng adipati, trukaha papan anyar kang dhumunge lor kulone Desa Kejawar kang ana wite tembaga," kata Eyang Gito saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (6/3/2021).

Kisah pohon Tembaga di balik cikal bakal Kabupaten Banyumas, Minggu (14/3/2021).Kisah pohon Tembaga di balik cikal bakal Kabupaten Banyumas, Minggu (14/3/2021). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

Setelah mendapatkan ilham seperti itu, kemudian Adipati Wargo Utomo ke-2 yang juga dikenal sebagai Adipati Mrapat ini kemudian menghadap kepada ayah dan ibu angkatnya, yaitu Kyai Mranggi dan Nyai Mranggi. Dia menyampaikan bisikan yang didengar tersebut, orang tua angkatnya menanggapi dan menebut bahwa itu suara itu memang suara bisikan dari Yang Maha Kuasa.

Eyang Gito melanjutkan, mulailah kemudian Adipati Wargo Utomo ke II ini diajak mencari pohon tembaga tersebut kearah barat laut dari Desa Kejawar yang kala itu masih berupa rawa yang luasnya ke timur sampai dengan Sungai Serayu, ke utara sampai dengan Sungai Serayu, ke barat sampai dengan kaki pegunungan Dawuhan dan Pasinggangan, ke selatan sampai dengan kaki pegunungan Kejawar.

Kisah pohon Tembaga di balik cikal bakal Kabupaten Banyumas, Minggu (14/3/2021).Gitosewojo mengisahkan pohon Tembaga di balik cikal bakal Kabupaten Banyumas, Minggu (14/3/2021). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

"Seluas itulah rawa di Banyumas ini, dan dirawa itu terdapat pohon-pohon yang banyak sehingga disebut hutan. Anehnya, Adipati Wargo Utomo ke II, bersama orang tua angkat dan para pengikutnya dari Wirasaba bisa menunjuk dan bisa memastikan bahwa inilah pohon tembaga," jelasnya.

Dia mengatakan jika saat itu barangkali bentuk Pohon Tembaga berbeda dibanding pohon-pohon lain yang ada di hutan kala itu. Setelah dipastikan itulah pohon tembaganya, maka mulailah Adipati wargo Utomo ke II bersama rakyatnya beramai-ramai membabat tempat tersebut.

"Lumpur rawanya dibuang, dikeringkan. Pohon pohon yang ada ditebangi semuanya selain pohon yang ditunjuk tadi," ucapnya.

Akhirnya tempat yang semula rawa dan hutan itu menjadi tanah yang kering dan bisa dihuni. Pembabatan itu dikisahkan rampung pada tahun 1571.

Keluarga itu kemudian melapor kepada Kesultanan Pajang yang menguasai wilayah tersebut.

"Jadi pohon tembaga ini sudah ada sebelum Adipati Wargo Utomo ke II dinobatkan sebagai pengganti ayah mertuanya. Sebelum Kabupaten Banyumas ada, awalnya bukan Kabupaten, ini Kadipaten. Jadi kerajaan, karena Adipati itu raja dan punya angkatan perang dan punya Patih juga," ucap dia.

"Jelas (lebih tua dari usia kabupaten Banyumas) karena setelah Adipati wargo Utomo ke II dinobatkan, itu kemudian mendapatkan ilham, agar berpindah tempat dan membuka tempat baru yang disebut ada pohon tembaganya (cikal bakal kabupaten Banyumas)," tambahnya.

Pohon satu-satunya...



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT