Kaleidoskop 2020

Heboh Ular Melilit Pilar Keraton Yogya yang Ditafsir Tanda Suksesi Sultan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 24 Des 2020 20:19 WIB
ular melingkar di tiang bangsal keraton yogya
Ular melilit di pilar Bangsal Keraton Yogyakarta. (Foto: Istimewa)
Yogyakarta -

Seekor ular melingkari pilar di Bangsal Magangan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta). Video penampakan ular di Bangsal Magangan Keraton Yogya itu mulanya diunggah akun Twitter @fthhrrs dan viral di media sosial.

Saat dimintai konfirmasi, pihak Keraton Yogya membenarkan peristiwa tersebut.

"Iya (ada ular melingkar di salah satu pilar bangsal Magangan), itu malam Jumat (15/10) Kliwon," kata Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta, KRT Jatiningrat, saat dihubungi detikcom, Selasa (20/10/2020).

Pria yang akrab disapa Romo Tirun ini menyebut ular tersebut melingkar di salah satu pilar Bangsal Magangan. Menurutnya, ular tersebut tidak mengganggu orang.

"Di Bangsal Magangan, tepatnya di pilar sebelah barat utara, itu persis di atas umpak. Jadi itu bagiannya kan umpak yang paling bawah, terus atasnya kan sudah mulai tiangnya itu, nah itu pas melingkar di atas umpak itu," ucapnya.

Romo Tirun menyebut kemunculan hewan di Keraton adalah hal yang biasa. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak perlu mengaitkan dengan hal-hal yang tidak semestinya.

"Ya memang misterius, malam-malam kok ada ular. Wujudnya (ular) itu kok seperti beras wutah (beras tumpah), tlenik-tlenik (motif titik-titik) tidak seperti biasanya. Tapi namanya juga Keraton, mesti tidak seperti biasanya," lanjut Romo Tirun.

Dia menerangkan kejadian serupa sebetulnya kerap terjadi di lingkungan Keraton Yogya. Terlebih saat hari tertentu atau peringatan salah satu tokoh di Keraton Yogyakarta.

"Jadi kalau ada hal-hal yang aneh itu sudah biasa. Mungkin di luar mengejutkan, tapi kalau di keraton, orang-orang keraton (biasa). Jadi hal-hal yang tidak biasa di luar sudah biasa di keraton, tidak pada terkejut, apalagi harinya malam Jumat Kliwon dan sedang memperingati haulnya HB IX," terangnya.

Dia lalu mencontohkan patung harimau yang jika dilihat tampak seperti hendak meloncat. Sehingga menurutnya, kemunculan hewan di lingkungan Keraton Yogya diminta sebagai hal yang biasa.

"Ada harimau misalnya, yang nganu, itu kan di dalam itu ada patung harimau yang menghadap ke selatan itu," ujarnya.

"Nah itu ada yang melihat sekonyong-konyong kok meloncat dia, misalnya seperti itu. Dia melihat kok kayak gitu-gitu itu. Jadi hal yang aneh, yang tidak biasa di luar (Keraton) sudah biasa di Keraton. Apalagi harinya malam Jumat Kliwon," lanjut Romo Tirun.

Karena menganggapnya biasa, Romo Tirun pun enggan menjelaskan secara rinci arti dari kemunculan ular tersebut. Selain itu, ular itu dinilai tidak mengganggu dan kini sudah hilang.

"Ularnya tidak mengganggu, memperlihatkan diri biasa itu. Kemarin juga dibiarkan saja terus hilang kok, dibiarkan, terus mau dilihat lagi sudah hilang," ucapnya.

Sementara itu, menilik dari fungsinya Bangsal Magangan merupakan tempat seleksi abdi dalem Keraton. Abdi dalem Keraton itu nantinya dipilih oleh putra mahkota atau Sultan.

"Fungsinya Bangsal Magangan itu untuk seleksi para abdi dalem prajurit, dulunya seperti itu. Diseleksi di Bangsal Magangan itu, biasanya yang ada di situ putra mahkota biasanya atau Sultan sendiri juga bisa memilih (abdi dalem). Makanya namanya magangan, karena magang itu kan calon," ucapnya.

Dihubungi terpisah, komunitas ular Yayasan Sioux menyebut ular yang melingkar di salah satu pilar Bangsal Magangan Keraton Yogya itu bukan jenis berbisa. Ular tersebut habitatnya di genting.

"Namanya ular itu lycodon capucinus (ular genting/ular cicak), bahasa Jawanya sowo emprit. Untuk makanannya cicak, jangkrik dan ular itu tidak berbisa," kata trainer Sioux Febrianto YS kepada detikcom, Selasa (20/10/2020).

Pria yang kerap disapa Dhe Braso ini menyebut habitat ular itu memang kerap berada di rumah-rumah. Sebab, makanan ular sowo emprit tersebut adalah cicak.

"Habitatnya di rumah atau di genting. Sering masuk rumah karena sedang berburu cicak," ucapnya.

Selanjutnya, pakar budaya Jawa dari UI tafsirkan akan adanya suksesi...