Urban Legend

Mencermati Pilihan Hari Jokowi: Rabu Pon untuk Jakarta, Legi untuk Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kamis, 24 Des 2020 14:33 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur saat menghadiri upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan RI ke-75, di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/8/2020)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/8/2020). Foto: dok. Setpres
Solo -

Isu reshuffle kabinet Indonesia Maju semakin santer ketika mantan Menteri Sosial Juliari Batubara ditangkap KPK pada awal Desember. Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru melantik sejumlah menteri baru pada Rabu Pon, 23 Desember 2020.

Rabu Pon sendiri sudah diprediksi oleh detikcom. Hari dan pasaran tersebut diketahui merupakan hari lahir Jokowi pada 21 Juni 1961 silam.

Selama masa kepemimpinan Jokowi periode pertama, ia juga melakukan empat kali reshuffle terhadap Kabinet Kerja pada hari Rabu. Berikut ini daftarnya:

Reshuffle Jilid I: Rabu Pon 12 Agustus 2015
Reshuffle Jilid II: Rabu Pon 27 Juli 2016
Reshuffle Jilid III: Rabu Pahing 17 Januari 2018
Reshuffle Jilid IV: Rabu Pahing 15 Agustus 2018

Kebiasaan di Solo

Menariknya, kebiasaan Presiden Jokowi ini berbeda dengan ketika dirinya masih menjabat Wali Kota Solo. Dalam catatan detikcom, banyak agenda penting Pemkot Solo yang dilakukan pada pasaran Legi.

Kebiasaan itu masih dilakukan ketika Presiden melakukan kegiatan penting di Solo, seperti:
- Meresmikan Pasar Klewer pada Jumat Legi (21/4/2017)
- Peresmian Museum Keris pada Rabu Legi (9/8/2017)
- Peresmian jalan tol Solo-Sragen pada Minggu Legi (15/7/2018).

Mengenai kebiasaan itu, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo yang merupakan mantan wakil Jokowi, menyebut semua hari baik. Dia mengaku tidak terpaku dengan penghitungan kalender Jawa.

"Semua hari baik. Yang paling penting pas harinya longgar," kata Rudy saat dijumpai di Balai Kota Solo, Rabu (23/12/2020).

Kata budayawan soal pasaran Legi

Budayawan Solo, Empu Totok Brojodiningrat, menilai hari baik harus dihitung berdasarkan sejumlah faktor. Antara lain ialah hari, pasaran, dan pawukon.

"Kita harus melihat hari baik itu berdasarkan semua faktor. Tidak semua Legi itu baik, tidak semua Rabu Pon itu baik, ada hitungannya," kata Mpu Totok saat dihubungi detikcom, Rabu (23/12/2020).

Menurutnya, penghitungan hari baik dalam kepercayaan orang Jawa, dapat dipakai untuk banyak hal. Di antaranya untuk pernikahan, pindah rumah, penandatanganan MoU, hingga pelantikan pejabat.

Selain menghitung hari baik, biasanya masyarakat juga menanyakan penghitungan hari buruk. Beberapa hari buruk disebut samparwangke dan taliwangke.

"Misalnya samparwangke, itu ada lima wuku yang ada samparwangkenya, yaitu Shinta, Warigalit, Langkir, Tambir, Bala, pada hari Senin. Biasanya penebang bambu atau orang bikin bangunan dari bambu itu menghindari hari samparwangke," ujar dia.

Simak juga video 'Pengamat Nilai Kabinet Jokowi Diisi Kandidat Capres 2024':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya, pelantikan menteri Jokowi di hari yang gawat...

Selanjutnya
Halaman
1 2