Round-Up

7 Fakta Terungkap Terkait Pencemaran Batu Bara di Laut Batang

Robby Bernardi - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 08:30 WIB
Nelayan di Kabupaten Batang tangkap batu, Selasa (22/12/2020).
Batu bara di jaring ikan nelayan Batang. (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Batang -

Sudah lima terakhir, nelayan di Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Batang, dibuat pusing dari hasil tangkapan di laut. Selain ikan, cumi dan cimpring, para nelayan ini juga menemukan bongkahan-bongkahan batu bara.

Berikut ini 7 fakta yang terungkap temuan batubara di laut Batang tersebut:

1. Sebelumnya ada iringan kapal tongkang batu bara
Sebelum ditemukanya batubara di laut Batang, para nelayan ini melihat adanya aktivitas pengiriman batubara di dermaga khusus di PLTU Batang. "Ada tiga kapal (tongkang) bongkaran batu bara. Kita kan biasa melihat tiap hari. Jadi tahu kapan batu bara datangnya," kata Wahyono, Ketua Paguyuban Nelayan Roban Timur.

2. Batu bara ditemukan di laut
Beberapa hari setelahnya, batu bara tersangku di jaring nelayan. Ukurannya bervariasi dari sebesar kelereng hingga sebesar buah kelapa. Padahal, para nelayan mencari ikan bukan berada di lokasi zona terlarang.

"Kita jauh dari areal terlarang. Sangat jauh. lagian di lokasi itu juga sudah tidak ada ikannya," kata Wahyono, salah satu nelayan Dusun Roban TImur.

3. Batubara merusak jaring dan rugikan nelayan
"Adanya batu bara yang menyangkut di jaring malah membuat jaring kita rusak. Malah nelayan asal Celong, Pak Duryono, terpaksa ditarik oleh kapal lain karena berat," jelas Wahyono.

4. Ratusan nelayan terdampak
Akibat jaringnya penuh batu bara tersebut, hasil tangkapan nelayan berkurang drastis hingga. Nelayan juga merugi biaya dan waktu karena harus memperbaiki jaring yang rusak. Selain itu para nelayan harus meluangkan waktu yang ekstra untuk memisahkan batu bara dari tangkapan ikan.

"Penghasilan jelas berkurang. Ya sekitar 50 persen. Kita juga ada tambahan pekerjaan yakni memperbaiki jaring dan memisahkan batubara dari ikan," tambahnya.

Menurut Wahyono, karena kondisi itu saat ini banyak nelayan memilih tak melaut. Dari 140 kapal nelayan, tak lebih dari separuh yang masih melaut.

Halaman Selanjutnya: Pengakuan PLTU Batang dan langkah Pemkab

Selanjutnya
Halaman
1 2