BPPTKG: Potensi Bahaya Utama Erupsi Gunung Merapi di Kali Gendol

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 16:22 WIB
Gunung Merapi dari Pos PGM, Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Senin (9/11/2020).
Gunung Merapi dari Pos PGM, Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Senin (9/11/2020). (Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom)
Sleman -

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut potensi bahaya erupsi Gunung Merapi mengarah ke Kali Gendol. Selain itu, dari data deformasi Gunung Merapi saat ini ada potensi bahaya mengarah ke barat.

"Potensi bahaya utama karena bukaan kawah ada di arah Kali Gendol ini berarti ancaman utama di Kali Gendol. Namun, demikian karena deformasi ada ke arah barat jadi potensi (bahaya) ke sana juga ada," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida saat ditemui wartawan di pengungsian Merapi Balai Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (10/11/2020).

"Ada pun data yang sekarang, memang deformasi, atau penggembungan, desakan magma ini ada di sisi barat dan barat laut. Ini tidak menutup kemungkinan ada arah ke sana (barat)," tegasnya.

Menurut data BPPTKG, pada Senin (9/11), laju rata-rata deformasi yang teramati sebesar 12 cm per hari. Selain itu, terdapat guguran sebanyak 35 kali. Lalu, gempa vulkanik dangkal terjadi sebanyak 42 kali, sedangkan gempa fase banyak terjadi sebanyak 363 kali.

Hanik menjelaskan teramati juga guguran Gunung Merapi mengarah ke barat pada Minggu (8/11) berdasarkan data di PGM Babadan tepatnya di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Guguran terjadi pada pukul 08.32 WIB, sejauh 750 meter dari puncak. Kemudian guguran yang kedua terjadi pada pukul 12.50 WIB, sejauh 3 km.

Meski begitu, Hanik baru bisa memastikan potensi bahaya erupsi Merapi jika kubah lava sudah muncul ke permukaan.

"Tapi ini akan lebih pasti kalau kubah lava itu sudah ada. Jadi data-data sampai saat ini, kubah lava belum ada di permukaan," jelasnya.

Hanik menyebut salah satu faktor penyebab belum munculnya magma di permukaan karena minimnya gas. Gas ini yang nantinya bakal mendorong magma ke permukaan.

"Jadi yang mendorong magma menuju ke permukaan adalah gas. Ini menunjukkan bahwa kenapa sampai saat ini, saya tekankan, data sampai saat ini, itu masih pelan-pelan jalannya. Ini karena memang magma miskin akan gas," tegasnya.

Selain itu, menurut Hanik berdasarkan data yang ada volume kubah lava saat ini diperkirakan lebih besar dari volume kubah lava pada 2006.

"Karena data-data (kegempaan) yang ada sudah melebihi (erupsi) tahun 2006. Volume kubah lava diperkirakan lebih besar dari (erupsi) 2006," paparnya.

Selanjutnya penjelasan tentang prediksi erupsi Gunung Merapi eksplosif. Bagaimana pesan Sultan hingga Bupati Sleman terkait ancaman bahaya ini... Simak di halaman selanjutnya..