Sultan Minta Tak Ada Diskriminasi Agama di Barak Pengungsian Merapi

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 13:26 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat mengunjungi pengungsi Merapi di Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (10/11/2020).
Sri Sultan HB X saat mengunjungi pengungsi Merapi di Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, (Foto: Jauh Hari WS/detikcom)
Sleman -

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X meminta kepada bupati dan Forkompimda agar memastikan tidak ada perlakuan diskriminatif antarsesama warga di barak pengungsian Merapi manapun. Sultan tak mau peristiwa diskriminasi di pengungsian Merapi pada 2010 lalu terulang kembali.

"Tidak ada lagi pengungsian yang didominasi agama tertentu, sehingga (pemeluk agama) yang lain tidak boleh masuk," kata Sultan saat meninjau barak pengungsian di Balai Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (10/11/2020).

Menurut Sultan, peristiwa diskriminasi tersebut terjadi di salah satu barak pengungsian yang terdapat di daerah Cangkringan pada 2010 lalu. Raja Keraton Yogyakarta itu pun tidak ingin peristiwa itu terulang lagi.

"Karena dikurung, tidak boleh orang lain masuk kecuali orang dengan agama tertentu yang boleh masuk dengan agama tertentu. Saya tidak ingin mengulang kejadian itu," ucap Sultan.

"Cara seperti ini (diskriminasi) tidak betul. Kecuali kalau dia ngragati (modal) sendiri, masalah lain. Tapi, di sini pun kita tidak akan sependapat kalau seperti itu," tegasnya.

Sultan mengingatkan di masa sekarang ini yang terutama adalah keselamatan warga selama peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Pihaknya pun bertanggung jawab untuk memfasilitasi barak pengungsian.

"Nanti masyarakatnya berkelompok-kelompok yang tidak semestinya itu terjadi, karena itu tanggung jawab pemerintah," ujarnya.

"Itu pengalaman kami di 2010 sehingga pengungsian terpaksa saya pindah waktu itu," pungkasnya.

Selain itu, Sultan juga meminta agar masyarakat bisa menentukan sendiri jenis makanan yang akan dikonsumsi.

"Jadi, saya punya harapan yang menentukan makan itu bukan yang memasak di dapur. Tetapi, warga masyarakat yang mau makan," ujarnya.

Menurut Sultan, dengan bisa memilih makanan sendiri artinya tidak akan ada lagi makanan yang dibuang-buang.

Apa yang diutarakan oleh Sultan bukan tanpa alasan. Berkaca dari pengalaman 2010, banyak pengungsi yang berpindah barak karena merasa ada makanan yang lebih enak.

Kondisi ini menurut Gubernur, membuat pendataan pengungsi menjadi sulit. Sebab, mobilitas warga yang mengungsi menjadi sulit terpantau.

"Tapi, pengalaman 2010, karena sudah ada HP, mobilitas pengungsi ini merepotkan kami tetapi juga juru masak. Begitu temannya di pengungsian lain telepon-telponan mengatakan wah rumangsaku kok enak ning kono, njuk pindah (kok perasaan makanannya lebih enak di sana, lalu pindah)," ucapnya.

"Nah, sehingga, dengan perpindahan itu terpaksa pagi-siang-sore, tim itu selalu mendaftar untuk menyiapkan makanannya," sambungnya.

Ia pun menegaskan jika pada dasarnya hal ini tidak perlu terjadi. Sehingga Sultan meminta agar segala sesuatunya dipersiapkan secara baik.

"Saya kira pengalaman seperti itu tidak perlu terjadi. Karena, sebetulnya kalau kepengen ya bisa hari berikutnya memasak yang sama. Jangan sampai gara-gara telepon-telponan njuk (lalu) pindah. Ini pengalaman saya yang terjadi," pungkasnya.

(ams/mbr)