Pilu Neiha Putri Driver Ojol yang Digerogoti Kanker hingga Kurus Kering

Robby Bernardi - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 15:54 WIB
Neiha (11) gadis cilik asal Batang kini hanya terbaring lemah tak berdaya gegara kanker kelenjar getah bening yang menggerogotinya. Neiha putri driver ojol ini hanya terus terbaring di tempat tidurnya, Kamis (15/10/2020).
Neiha (11) gadis cilik asal Batang kini hanya terbaring lemah tak berdaya gegara kanker kelenjar getah bening yang menggerogotinya (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Batang -

Seorang gadis kecil bernama Neiha Salwa Sihab (11) hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Dia tak bisa beraktivitas layaknya teman seusianya gegara kanker kelenjar getah bening yang diidapnya.

Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Sukasno (42) dan Tulas Agustina (32) ini tubuhnya juga sangat kurus. Bobotnya kini hanya 15 kg, jauh dari berat badan ideal anak-anak seusianya. Tampak hanya bagian lehernya saja yang terus membesar karena kanker kelenjar getah bening yang dideritanya.

Neiha juga kerap menangis karena menahan sakit yang menggerogotinya. Sang ayah, Sukasno, pun tak menyangka jika benjolan yang mulanya hanya sebesar biji jagung itu ternyata kanker.

"Awalnya hanya benjolan kecil. Sebiji jagung sebelah kiri. Katanya tidak sakit. Saat itu anaknya masih duduk di kelas tiga (9 tahun)," tutur Kasno, sapaan karibnya, saat ditemui di rumahnya di Kebanyon, Kelurahan Kasepuhan, Batang, Kamis (15/10/2020).

Sehari-hari bapak empat anak ini bekerja sebagai driver ojek online sedangkan istrinya Tulas merupakan ibu rumah tangga. Pandemi virus Corona (COVID-19) ini ikut membuat pendapatan Kasno menurun. Bahkan dalam sehari maksimal dia hanya membawa pulang Rp 50 ribu.

Kasno dan keluarganya sudah tiga bulan ini tinggal menumpang di rumah dinas guru milik SDN Kasepuhan 01 Batang yang tidak terpakai. Sebelumnya, mereka tinggal menumpang di rumah saudara yang jaraknya tak jauh dari rumah yang mereka tinggali saat ini.

Kasno menyebut benjolan di tubuh putri keduanya itu makin membesar. Pada 2019 lalu, saat Neiha kelas 5 SD, benjolan itu mulai berukuran sebesar telur ayam. Kala itu, Neiha dibawa ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUD Kalisari untuk diperiksa.

"Di rumah sakit dilakukan biopsi untuk mengetahui jenisnya (kanker), ganas atau jinak. Ternyata hasilnya kanker ganas," terang Kasno.

Kasno menyebut pihak rumah sakit mengaku angkat tangan dengan kanker yang diderita Neiha. Mereka lalu merujuk Neiha ke RSUD Kraton Pekalongan hingga akhirnya ke RS Dr Kariadi, Semarang.

"Di Semarang, katanya tidak perlu operasi, hanya melalui terapi kemo. Kemoterapi ini katanya untuk mematikan jaringan sel agar tidak membesar. Ini dibiayai BPJS," jelas Kasno.

Berjuang melawan kanker lewat kemoterapi, membuat tubuh Neiha semakin kurus. Namun, kanker di kelenjar getah bening Neiha itu justru makin membesar.

"Ya efeknya anaknya tidak ada nafsu untuk makan. Makanya berat badannya tambah menyusut, dan upaya kemo tersebut tidak berhasil, benjolan terus bertambah besar di leher. Kata dokter perlu disinar, tapi menunggu nett badan normal minimal 30 kilogram," jelas Kasno.

Kasno mengaku tak patah arang untuk mengobati putrinya itu. Dia pun berjuang memberikan makanan bergizi, agar putrinya itu bisa diobati.

"Berat memang berat. Saya hanya ojek online. Perlu susu untuk menambah berat badan anak agar bisa menjalani proses sinar. Penghasilan tidak menentu apalagi seperti pendemi COVID saat ini," ucap Kasno.

Kasno mengakui biaya pengobatan Neiha ditanggung BPJS, hanya saja dia kerepotan untuk menanggung biaya operasional selama Neiha berobat ke Semarang. Selain itu, hanya dirinya yang bekerja menopang keluarga.

"Saya berharap, ada yang mau membantu kami. Saya tidak bisa membalasnya hanya bisa mendoakan saja," harap Kasno.

Di lokasi yang sama, Tulas menyebut kondisi putrinya itu kian lemah tak berdaya sejak dua bulan terakhir.

"Agustus kemarin dia masih bisa berjalan, melihat Agustusan sekarang, kasihan. Kami merasa berdosa tidak bisa membahagiakan anak kami ini," tutur Tulas Agustina, sembari meneteskan air mata.

Tulas pun bingung untuk memenuhi kebutuhan biaya pengobatan putrinya itu. Hatinya makin teriris melihat anaknya itu kini hanya bisa terbaring lemah.

"Suami saya hanya ojek online. Saya tidak bisa kerja, menunggu anak-anak saya. Saya berharap anak saya pulih kembali," harap Tilas terbata-bata menangis.

Terlebih putrinya itu juga tak memiliki nafsu makan, tugas terberatnya adalah membujuk putrinya untuk makan agar berat badannya normal. Meski begitu, dia merasa bersyukur karena banyak warga yang membantu keluarganya di kala susah.

"Pas kita diusir saudara dari rumahnya, kita juga Alhamdulillah ditampung warga agar menempati rumah dinas yang kosong. Terima kasih juga pada pihak sekolah," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2