Pakar UGM Nilai AS Undang Prabowo untuk Tunjukkan RI Jadi Sekutu Pentingnya

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 14:58 WIB
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto (tengah) bersiap mengikuti rapat kerja bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Komisi I DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/6/2020). Rapat kerja tersebut membahas kesiapan Kemhan dan TNI menghadapi bentuk ancaman keamanan baru di Indonesia, perkembangan Prolegnas dan penyusunan peraturan pelaksana undang-undang negara di bidang pertahanan dan kesiapan TNI dalam pelibatan pengimplementasian tatanan kehidupan baru (new normal).  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.
Menhan Prabowo Subianto (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Sleman -

Media ternama AS, New York Times, menyoroti kunjungan Menhan RI Prabowo Subianto ke Pentagon sebagai strategi AS untuk menghadapi China. Pengamat hubungan internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Riza Noer Arafani melihat undangan ke Prabowo itu untuk mengimbangi pengaruh China di kawasan Asia Pasifik. Seperti apa analisanya?

"Dari sudut pandang Amerika ini lebih banyak didorong kepentingan untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu sekutu penting bagi Amerika di kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini peningkatan eskalasi ketegangan di Laut China Selatan yang dipicu oleh China," kata Riza saat dihubungi detikcom, Kamis (15/10/2020).

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia penting dalam konsep Indo Pasifiknya Amerika yang dimunculkan oleh Trump. Ini salah satu strategi Amerika untuk menghadapi China, dalam hal perimbangan kekuatan perimbangan pengaruh China," sambungnya.

Dosen Fisipol UGM itu juga melihat undangan ke Prabowo ini sebagai keuntungan bagi Indonesia. Selain itu, hal ini juga bisa menunjukkan politik bebas aktif yang dianut Indonesia.

"Prabowo diundang saya kira ini suatu keuntungan. Dalam arti untuk politik bebas aktif kita suatu keuntungan karena untuk menegaskan politik Indonesia bebas aktif dan tidak bisa didikte pihak manapun," terang Riza.

Meski begitu, Riza berpendapat undangan ke Prabowo juga tak lepas dari kepentingan geopolitik dan geoekonomi. Soal pasokan senjata, misalnya, Amerika ingin memastikan Indonesia punya pasokan senjata yang cukup.

"Maksudnya nanti kalau ada deal misalnya pembelian alat militer, alutsista itu dimensinya geopolitik dalam hal meningkatkan daya tawar Indonesia, pengaruh Indonesia di kawasan ini (Asia Tenggara) dan Amerika ingin memastikan kita dapat pasokan yang cukup untuk peralatan militer," urainya.

Sementara pada dimensi geoekonomi, Amerika bersikap pragmatis. Riza menyebut Amerika butuh sekutu yang bisa diandalkan.

"Dari geoekonomi sudut pandang Amerika sama seperti Trump menduduki Gedung Putih. Orientasinya sebetulnya Amerika yang didahulukan. Dalam konteks perdagangan senjata, Amerika sangat memerlukan sekutu yang bisa diandalkan. Dalam hitungan Trump, Indonesia salah satunya," ungkapnya.

Riza menyebut Amerika ingin agar Indonesia lebih dekat dengan AS ketimbang China. Indikasinya jelas, Amerika butuh sekutu untuk melawan China dan tidak akan membiarkan Indonesia terlalu dekat dengan Negeri Tirai Bambu.

"Kepentingan Amerika geopolitik, sejak Trump memimpin muncul ide Indo Pasifik dan itu untuk melawan China. Kalau Amerika kehilangan Indonesia itu kehilangan besar," jelasnya.

Oleh karena itu, dia menilai undangan untuk Prabowo merupakan salah satu cara untuk membatasi Indonesia mendekat ke China.

"Salah satu cara untuk membatasi Indonesia mendekat ke China yaitu lewat pertahanan yaitu melalui Menteri Pertahanan Prabowo yang sempat dilarang masuk," paparnya.

"Sekarang konsepnya sudah berubah sejak Trump naik, tidak peduli undang-undang Leahy (Leahy Laws), pragmatis dan manifestasi dengan pertahanan juga sama, yang penting pegang sekutu terdekat dan jangan sampai lepas," pungkasnya.

(ams/sip)