Viral Polisi Klaten Rusak Ketipung Saat Bubarkan Dangdutan, Ini Faktanya

Achmad Syauqi - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 22:30 WIB
Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu klarifikasi soal viral ketipung dirusak saat pertunjukan musik, Senin (5/10/2020).
Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu klarifikasi soal viral ketipung dirusak saat pertunjukan musik, Senin (5/10/2020). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Polres Klaten menyatakan posting-an viral di Facebook yang menyebut ada perusakan alat musik jenis ketipung oleh polisi saat pembubaran pertunjukan musik di Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten adalah hoax. Posting-an diunggah akun Facebook bernama Hendra AR.

Dalam posting-an itu berbunyi 'Intine Sing Sabar, dibubarkan yo dibubarkan bukan Alat Musik Di kukut terus Dirusak, Mohon Keadilannya'. Narasi itu disertai foto tiga ketipung dan patroli polisi saat membubarkan acara.

"Dengan klarifikasi sudah clear dan jelas tidak ada perusakan ketipung oleh kepolisian. Tetapi hanya kesalahpahaman saudara Hendra yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya namun meng-upload di akun Facebook miliknya," kata Edy Suranta Sitepu kepada wartawan usai klarifikasi, Senin (5/10/2020).

Edy menjelaskan, pembubaran pertunjukan musik itu terjadi Minggu (4/10) pukul 20.30 WIB di Dusun Karanggumuk, Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno. Saat itu patroli gabungan Rayon Jogonalan menerima informasi ada kegiatan organ tunggal tanpa izin dan tanpa protokol berupaya membubarkan.

"Petugas membubarkan dan mengamankan alat musik berupa organ, ketipung, memanggil penyelenggara, pemilik alat orkes dan diminta membuat surat pernyataan untuk tidak lagi mengadakan acara hiburan tanpa izin. Setelah itu petugas menyerahkan alat musik ke pemilik tapi rekan pemilik ketipung bernama Hendra membuat posting-an," terang Edy Suranta.

Tangkapan layar postingan viral yang menyebut polisi rusak ketipung saat bubarkan pertunjukan musik di Klaten.Tangkapan layar postingan viral yang menyebut polisi rusak ketipung saat bubarkan pertunjukan musik di Klaten. Foto: Istimewa

Posting-an gambar itu, sambung Edy Suranta, disertai narasi alat musik tersebut disita dan dirusak petugas. Berita itu viral sehingga dilakukan klarifikasi.

"Apa yang dilakukan jajaran murni tugas menindaklanjuti laporan masyarakat adanya hiburan organ tunggal yang tidak izin dan tidak mematuhi protokol kesehatan serta pesta miras. Masyarakat jangan mudah membuat berita atau mudah percaya berita yang belum pasti kebenarannya," ucap Edy.

Terpisah, Kasubbag Humas Polres Klaten Iptu Nachrowi menjelaskan yang diklarifikasi diantaranya petugas piket Polsek, Eka pemilik ketipung, Hendra pemilik akun Facebook, penyelenggara dan para pemain musik. Klarifikasi dipimpin Kapolres Klaten dan dihadiri perwakilan Paguyuban Seniman Kabupaten Klaten (Sekaten).

"Dari paguyuban diwakili Bapak Kombang. Pertemuan klarifikasi digelar di Mapolsek Gantiwarno," ungkap Nachrowi pada wartawan.

Menurut Nachrowi, Eka pemilik ketipung menyatakan alat musik tersebut rusak akibat dirobek sendiri. Saat melakukan pengambilan alat yang disita di Polsek Gantiwarno, dia tidak mengecek kondisi ketipung.

"Tidak dicek dulu setelah dilihat di rumah ternyata ada sobekan kecil pada ketipung yang menurutnya menyebabkan ketipung tidak bisa digunakan secara normal. Kemudian ketipung justru dirusak sendiri dengan disobek-sobek bagian kulit karena kesal dan fotonya dijadikan status WhatsApp," terang Nachrowi.

Sementara itu, Hendra selaku pemilik akun Facebook menjelaskan masalah itu sudah selesai. Dirinya sudah diklarifikasi oleh Polres Klaten.

"Sudah klir, sudah selesai. Tadi saya sudah diklarifikasi Polres," ungkap Hendra saat dihubungi detikcom.

Menurut Hendra, posting-an berita di media sosial itu berawal dari mengambil foto status WA yang dibuat Eka. Foto selanjutnya di-upload di akun Facebook Hendra AR tanpa memahami kejadian sebelumnya.

"Saya tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dan tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Eka," ujar Hendra.

(rih/mbr)