Round-Up

Cerita Soesilo Toer, Doktor yang Dipenjara Gegara Stigma PKI

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 04 Okt 2020 11:48 WIB
Soesilo Toer (83), Rabu (30/9/2020).
Soesilo Toer doktor lulusan Uni Soviet (Rusia) pernah dipenjara gegara stigma PKI (Foto: Febrian Chandra/detikcom)
Yogyakarta -

Penulis yang juga akademisi, Soesilo Toer (83) sempat dipenjara di masa Orde Baru karena stigma terlibat gerakan komunis atau PKI. Adik sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu dipenjara saat baru saja pulang dari merampungkan studinya di Uni Soviet (Rusia).

"Saya itu tidak PKI, tapi orang-orang mengira saya orang PKI. Saya tidak berpartai dan tidak mau jadi budak partai," kata Soes saat dikunjungi detikcom, di rumahnya, Blora, Rabu (30/9/2020) lalu.

Soes mengenang peristiwa itu terjadi pada 1973 atau delapan tahun usai gerakan G30S/PKI pada 1965 silam. Kala itu dia baru saja menginjakkan kakinya di Tanah Air, dia langsung dijemput oleh pihak berwajib di Bandara Kemayoran dan dibawa ke Cikini, Jakarta.

"Baru saja turun, saya ditahan karena permasalahan dokumen paspor imigrasi. Itu di tahun 1973," ujar pria yang mempunyai gelar master dan doktor ekonomi politik dari perguruan tinggi di Moskow, Uni Soviet itu.

Soes mengisahkan saat peristiwa G30S/PKI pada 1965 terjadi dia masih berada di Rusia untuk menyelesaikan studinya. Dia sendiri mengaku berangkat ke Rusia pada 1962.

"Memang waktu itu saya ditahan dan dikumpulkan dengan beberapa tahanan politik pada peristiwa 30 September. Tapi sedikitpun saya tidak pernah terlibat dalam gerakan PKI di Indonesia," jelasnya.

Pada 1978, Soes akhirnya dibebaskan dengan sejumlah syarat. Di antaranya dia dilarang bercerita kepada siapapun terkait aktivitas dan keadaan di dalam penjara.

"Tanda tangan itu, tinta pulpennya merah lagi. Intinya isinya saya tidak boleh menulis dan bercerita keadaan di dalam penjara," kata Soes.

Dengan status pernah dipenjara dan stigma PKI itu, Soes pun sempat kesulitan mencari pekerjaan. Namun, pada tahun 1989, dia sempat menjadi rektor di salah satu perguruan tinggi di Bekasi. Kemudian tahun 1986-1991, Soes mengajar di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.

"Saya sempat menjadi dosen. Tapi lagi-lagi mungkin karena stigma miring itu, di tahun 1991 saya tidak diberi job alias saya diminta berhenti mengajar secara halus," urainya.

Tak patah arang, tahun 1991-2004 Soes bekerja di Litbang Perguruan Rakyat. Setelah tahun 2004 dia pulang ke Blora untuk menikmati masa tuanya.

"Pulang ke Blora menikmati masa tua. Sambil benahi rumah ini, meski duit saya tidak banyak waktu itu. Rumah ini dulu juga pernah mau dibangun Pram (Pramoedya Ananta Toer) namun karena perdebatan dengan keluarga, akhirnya batal," jelasnya.

Kini dia pun sibuk beternak kambing dan memulung sampah dengan mengitari jalanan di Kota Blora. Meski peristiwa penahanannya itu sudah lama, Soes juga mengaku masih distigmakan terlibat PKI.

"Masih, pernah ngatain saya PKI. Gara-gara rumah saya kotor dan bau. Tanpa mau mendengar penjelasan saya," jelasnya.

"Dia tidak tahu, jika saya dulu, di tahun 1960-1962 pernah menjadi sukarelawan pejuang Trikora. Masuk batalion serba guna. Jabatan kepala perbekalan dengan pangkat letnan. Dan pejuang itu tidak dan tak berharap dibayar," kata Soes.

Tonton juga 'Gaduh PKI di Ujung September':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2