Round-Up

Mitos Ratu Kidul Rekam Peristiwa Tsunami di Mata Budayawan-Sejarawan

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 04 Okt 2020 10:51 WIB
Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Foto: Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Yogyakarta -

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto meyakini jika mitos Ratu Kidul merekam peristiwa tsunami masa silam. Budayawan dan sejarawan punya pandangan berbeda soal mitos Ratu Kidul dan tsunami. Seperti apa uraian mereka?

Budayawan Solo, BRM Bambang Irawan menyebut Serat Sri Nata yang dikutip peneliti LIPI itu sah-sah saja diinterpretasikan sebagai tsunami. Bambang juga menerjemahkan cuplikan Serat Sri Nata yang dikutip LIPI, yakni:

Kilat petir bersahutan
Menggelegar suaranya dahsyat sekali
Dikiranya terjadi kiamat
Air menjulang ke angkasa
Hingga tak bisa dipisahkan antara ikan & airnya

Di seberang sana tanpa diketahui
Ratu Kidul saat mendengar kabar

Sedang tidur di pelaminan gading
Geger pula para dayang
Ular naga pada lari
akan menaiki gunung
Ratu Kidul lirih berkata
Seumur hidup aku belum pernah mengalami/melihat
Samudera menjadi kering

Dan panasnya air laut
Melebihi panasnya api
Ikan-ikan semua mati
Apakah ini hari kiamat

Bambang menyebut petikan surat tersebut ditulis menggunakan sudut pandang penulisan penguasa Ratu Selatan, Ratu Kidul. Jikalau mitos Ratu Kidul merekam peristiwa tsunami, dia meyakini itu menggambarkan yang terjadi di lautan.

"Bisa saja diinterpretasikan seperti itu. Tetapi itu kan yang menceritakan Ratu Kidul, bukan manusia. Mungkin itu kejadian di lautan, sampai laut kering," kata BRM Bambang Irawan saat dihubungi detikcom, Senin (28/9).

Bambang lalu mengutip Serat Wedhatama Piningit yang juga menceritakan peristiwa alam. Dalam serat tersebut, Pulau Jawa disebut akan terbelah dua.

"Saya anggap masuk akal. Kalau lihat sesar gempa sejak abad 18 sampai kemarin gempa Yogyakarta itu kan sesarnya ke utara, Bantul sampai Jepara. Itu dilihat dari geologi," ujar Bambang.

Meski begitu, Bambang tetap meminta masyarakat berpijak pada data sains untuk prediksi kejadian alam. Sehingga data yang didapatkan bakal akurat.

"Menurut saya, cerita dalam babad atau serat itu tetap harus dicocokkan dengan sains. Lewat ramalan satelit, kalau perlu pakai referensi yang lebih canggih agar mendapatkan data akurat," terangnya.

Senada dengan Bambang, sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Margana menyebut hal itu sebagai pendapat atau interpretasi. Sri Margana menyebut peneliti LIPI tak menyertakan data persis soal kapan tsunami terjadi di Pantai Selatan Yogya.

"Itu kan interpretasi saja, semua orang boleh berinterpretasi. Kan orang LIPI ini tidak memberikan data persisnya kapan itu ada tsunami di pantai selatan Yogya," kata Sri Margana saat dihubungi detikcom, Senin (28/9).

Tonton juga 'Penjelasan Peneliti ITB soal Potensi Tsunami 20 M di Selatan Pulau Jawa':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2