Kisah Mbah Min, Penjual Mainan yang Pernah Jadi Mata-mata Pengintai Belanda

Kartika Bagus - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2020 19:27 WIB
Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020).
Foto: Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020). (Kartika Bagus/detikcom)
Solo -

Seorang kakek penjual mainan anak-anak di Solo, Ngadimin Citro Wiyono (87) berkisah tentang masa lalunya menjadi pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer Belada II 1948. Dia berkisah tentang tugasnya menjadi mata-mata mengamati pergerakan tentara Belanda.

Ditemui di rumahnya di Kaplingan Rt 04 Rw 20 Jebres Solo Jawa Tengah, kakek yang akrab disapa Mbah Min Semprong ini sedang sibuk mempersiapkan dagangannya. Ada mainan tembak-tembakan, boneka monyet, panahan, hingga ada pula face shield.

Menjelang momen HUT RI 17 Agustus, Mbah Min selalu bersemangat. Bukan karena hendak ikut upacara kemerdekaan, melainkan terkenang saat dirinya menjadi pejuang telik sandi atau mata-mata bagi Tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan di masa Agresi Militer ke 2 Belanda tahun 1948.

"Ceritanya kampung di sekitar Panasan Boyolali, dulu belum ada Lanud Adisumarmo, tapi lapangan terbang Panasan. Pada tahun 1948 Belanda kembali menjajah Indonesia, Belanda yang di Solo berpusat di lapangan terbang. Di sana tank-tank Belanda banyak, pesawat juga banyak dan gudang senjata. Tugas saya menjadi pengawas musuh, atau mata-mata," tutur Mbah Min.

Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020).Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020). (Kartika Bagus/detikcom)

"Setiap hari saya mengawasi pergerakan tentara Belanda dan melaporkannya kepada Komandannya. Karena saat itu umur saya masih 16 tahun, jadi pekerjaan yang pas adalah menjadi mata-mata," kenangnya.

Mbah menceritakan awalnya desa tempat dia tinggal diserbu tentara Belanda, hingga orang tua dan seluruh tetangganya tewas. Saat itulah dia bertekad membalas dendam kematian keluarganya.

Selanjutnya
Halaman
1 2