Kisah Mbah Min, Penjual Mainan yang Pernah Jadi Mata-mata Pengintai Belanda

Kartika Bagus - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2020 19:27 WIB
Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020).
Foto: Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020). (Kartika Bagus/detikcom)

Sehingga dia diminta salah seorang komandan tentara untuk membantu. Ngadimin kecil langsung menyanggupinya.

Kini Mbah Min telah renta. Badannya tidak tegap lagi bahkan giginya mulai tanggal satu persatu. Namun yang masih menyala adalah semangat hidupnya dalam menyambung hidup dan mencari nafkah buat keluarganya.

Berbagai pekerjaan sudah pernah dilakoninya setelah menyelesaikan tugasnya menjadi mata-mata pada sekitar tahun 1950.

Hingga kini akhirnya Mbah Min menjadi penjual mainan keliling di beberapa tempat. Namun salah satu lokasi favoritnya untuk berjualan yakni di depan pintu gerbang kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Mbah Min setia menjajakan dagangannya sejak pagi hingga malam. Jika beruntung Mbah Min bisa membawa pulang Rp 20 ribu dalam sehari. Tak jarang dia pulang dengan tangan kosong.

Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020).Ngadimin Citro Wiyono atau Mbah Min, mantan mata-mata zaman Belanda, Jumat (14/8/2020). (Kartika Bagus/detikcom)

"Sekitar 4 hingga 5 tahun ini jualan mainan. Setelah becak tidak laku, saya banting setir jualan mainan. Ya, dianggap cukup, ya cukup, dianggap nggak ya nggak. Saya bikin face shield, tembak-tembakan, ya untung Rp 1.000 hingga Rp 2.000," tutur Mbah Min.

Salah seorang rekan sesama pedagang di kampus UNS Solo, Purnomo (39) mengaku tahu tentang kisah Mbah Min yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Mbah Min, kata Purnomo, sudah berjualan di lokasi itu selama enam tahun.

"Sebelumnya sudah tahu mbah sempong pejuang. Dulu juga kerja serabutan akhirnya semakin tua, semakin tua jualan mainan, kalau semangatnya nggak kalah dengan yang muda-muda, dia semangatnya bagus, di event manapun dia ikut, jualannya sampai malam kadang jam 22.00 kadang jam 23.00, nggak pernah mengeluh," tutur Purnomo.

Mbah Min mengaku diminta keluarganya untuk di rumah saja. Apalagi pendapatannya selama pandemi COVID-19 menurun. Namun Mbah Min mengaku tak kerasan jika tak bekerja.

Di antara perjuangannya menyambung hidup dengan berjualan mainan, Mbah Min juga berharap mendapat pengakuan sebagai seorang veteran. Meski tidak ada selembar suratpun diterima Mbah Min dari Komandannya waktu itu.

"Kemauan saya terhadap pemerintah, akuilah saya sebagai pejuang, yang kedua veteran ada honor sedikit atau banyak, tapi bukan itu tujuan saya. Akui saja saya sudah senang, dan perjuangan saya tidak sia-sia. Saya itu kalau cerita masa lalu air mata netes, sampai sekarang belum mendapat penghargaan," kata Mbah Min.


(sip/sip)