DIY Perpanjang Status Tanggap Darurat COVID-19, Ini Alasannya

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 17:21 WIB
Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Kamis (30/7/2020).
Foto: Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Kamis (30/7/2020). (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) kembali memperpanjang status tanggap darurat hingga akhir bulan Agustus. Hal itu karena kasus positif COVID-19 di DIY masih naik turun.

"Untuk status tanggap darurat, Pak Gubernur (DIY) sudah menetapkan bahwa nanti akan diperpanjang selama satu bulan lagi," kata Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji saat ditemui wartawan di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Kamis (30/7/2020).

Penetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur nomor: 227/KEP/2020 tentang penetapan perpanjangan ketiga status tanggap darurat bencana Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di DIY. Surat tertanggal 30 Juli itu diteken langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.

Menyoal alasan perpanjangan status tersebut, Aji mengaku ada beberapa hal yang mendasari. Di mana salah satunya adalah terkait belum landainya jumlah kasus positif COVID-19 DI DIY

"Ya tentu pertama status bencana nasional sampai hari ini belum dicabut oleh presiden, itu salah satu dasarnya," ujarnya.

"Kedua, perkembangan kasus konfirmasi positif di DIY masih naik turun masih terjadi, dan beberapa penanganan lain masih diperlukan pada kondisi tanggap darurat, seperti untuk persiapan pemulihan ekonomi dan bansos dan lain-lain masih diperlukan status tanggap darurat," imbuh Aji.

Diberitakan sebelumnya, Pemda DIY sudah memperpanjang status tanggap darurat hingga tanggal 31 Juli. Hal tersebut karena masyarakat belum sepenuhnya menaati protokol kesehatan dalam mencegah penularan COVID-19.

"Bahwa dari (hasil) rapat menyepakati status tanggap darurat kita perpanjang sampai 31 Juli. Tentu perpanjangan ini ada tujuan dan juga ada catatan-catatan yang mengemuka di rapat tadi," kata Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DIY, Biwara Yuswantana, Kamis (25/6).

Hal tersebut diungkapkan Biwara usai mengikuti rapat evaluasi dan tindak lanjut status tanggap darurat COVID-19 di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Biwara juga menyebut alasan memperpanjang status tersebut.

"Kita menganggap atau menilai kedisiplinan masyarakat dalam menaati protokol kesehatan perlu ditingkatkan. Jadi perlu ada peningkatan pemahaman, edukasi, sosialisasi dan juga patroli-patroli untuk itu," ucapnya saat itu.

Dalam kesempatan yang sama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V menyebut kampus-kampus di DIY boleh menggelar perkuliahan secara offline atau luring. Namun hal tersebut hanya berlaku untuk kriteria khusus.

Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Didi Achjari mengatakan, pihaknya telah melaporkan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DIY jika kampus pada dasarnya mengikuti aturan dari Kemendikbud, terutama terkait dengan perkuliahan. Di mana selama ini Mendikbud meminta kampus-kampus melaksanakan perkuliahan secara daring bagi yang memungkinkan.

"Nah, untuk perkuliahan yang memang harus mau tidak mau dilakukan secara luring atau offline, maka dimungkinkan," katanya saat ditemui wartawan di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, hari ini.

Mengingat banyak mahasiswa yang kemungkinan kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan program studinya. Apalagi syarat untuk lulus kuliah harus ada kegiatan yang tidak dilaksanakan secara online atau daring.

"Artinya kalau memang di lab atau praktikum, atau kegiatan yang tidak dimungkinkan seperti skripsi, disertasi atau tesis yang harus selesai semester ini dimungkinkan secara luring dengan menerapkan protokol kesehatan ketat," ujar Didi.

Selanjutnya, soal kedatangan mahasiswa baru atau calon mahasiswa baru ke Yogyakarta, Didi mengaku tidak mewajibkan mereka datang. Mengingat untuk perkuliahan mahasiswa baru tetap secara daring dan untuk tes penerimaan dapat dilakukan secara online.

"Untuk kedatangan maba atau calon maba, saat ini kami melakukan penerimaan mahasiswa secara bersama, jogjaversitas.id, itu memungkinkan calon maba ikut tes tidak secara fisik datang ke Yogyakarta," katanya.

"Sedangkan kedatangan mereka (maba) menunggu situasi, apakah akhir semester ini sudah reda atau tidak," lanjutnya.

Didi menjelaskan, saat ini ada 102 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 3 Perguruan Tinggu Negeri (PTN) yang terdiri dari UPV 'Veteran' Yogyakarta, ISI Yogyakarta dan UNY. Semuanya berada di bawah koordinasi LLDIKTI Wilayah V, sedangkan UGM tidak karena telah otonom.

"Dari jumlah itu, total mahasiswa yang kami data sekitar 250 ribu (orang), tapi yang di bawah kendali kopertis. PT (perguruan tinggi) agama itu sekitar 50 ribuan, jadi total 300an, belum termasuk yang siswa," ujarnya.

Tonton video '40 Pegawai Positif COVID-19, Gedung Sate Tutup Sementara ':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/ams)