Keraton Yogya Sangsi Soal Klaim Emas Sultan HB II Dijarah Inggris

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 16:02 WIB
Selain Malioboro dan Titik Nol Kilometer, Tugu Pal Putih Yogyakarta menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan.
Ilustrasi Ikon Kota Yogya, Tugu Pal Putih (Foto: Pradito Rida Pertana)
Yogyakarta -

Ada pihak yang mengaku keturunan (trah) Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono (HB) II mengklaim 57 ribu ton emas milik Sultan HB II dijarah tentara Inggris saat masa Perang Sepehi. Klaim itu langsung disangsikan oleh adik Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo.

Prabukusumo sangsi peninggalan emas HB II mencapai 57 ribu ton. Menurutnya, harta keraton Yogya kala itu tak ada sebanyak itu.

"Saya terus terang kurang yakin dengan hal tersebut (emas 57 ribu ton hasil jarahan Inggris dari HB II). Berdasarkan logika saja, emas 57.000 ton HB II (Keraton Yogyakarta) itu menyimpannya di mana, (khususnya) di keraton zaman dahulu," ucap Prabukusumo lewat pesan singkat kepada detikcom, Kamis (30/7/2020).

Prabukusumo menyebut pada masa HB II belum ada pertambangan emas yang mampu menghasilkan emas hingga 57 ribu ton. Selain itu, belum tentu pihak keraton mampu membeli semua emas itu pada masa HB II.

"Keraton Yogyakarta beli emas sebanyak itu uang dari mana? Zaman dahulu pertambangan emas di mana yang memproduksi sebanyak itu?" ujar Prabukusumo.

"Apalagi emas sebanyak itu masak tidak sedikit pun diparingkan (diberikan) ke putra-putranya (HB II)?," sambungnya.

Fakta lainnya, pada masa pemerintahan Sultan HB I lantai Keraton Yogyakarta bahkan belum bertegel. Sementara pembangunan keraton menjadi lebih baik baru terjadi setelah era Sultan HB II.

"Kalau Keraton Yogyakarta zaman HB II mempunyai harta sebanyak itu, kenapa HB II tidak membuat Keraton Yogyakarta lebih megah mewah seperti kerajaan-kerajaan Eropa tetapi motif Jawa," jelasnya.

"Saya kan harus melihat dengan logika ya, misal kita punya uang (kekayaan) berlebihan, mungkin rumah kita bikin seperti istana, lantai marmer atau dengan bahan-bahan yang mewah. Tapi kenapa baru dibangun bagus sejak HB VII dan HB VIII?," lanjut Prabukusumo.

Sementara itu, sejarawan sekaligus penulis buku 'Geger Sepoy', Lilik Suharmaji mengatakan perang yang oleh orang Jawa disebut Perang Sepehi itu terjadi pada 1812. Dia membenarkan terjadi penjarahan karya intelektual hingga perhiasan, namun menurutnya tak sebanyak 57 ribu ton.

"Selama saya meneliti itu tidak ada (57 ribu ton emas Keraton dijarah). Jadi yang dijarah adalah uang, manuskrip atau kekayaan intelektual, dan perhiasan milik Ratu Kencana Wulan, istri tercinta HB II," jelas Lilik saat dihubungi wartawan, Rabu (29/7) kemarin.

Tonton video 'Ramai di Yogya Warga Sebut Pohon Ini Berbentuk Mirip Ayam':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2