Round-Up

Siapa Peneror Diskusi Mahasiswa FH UGM yang Catut Nama Muhammadiyah?

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 31 Mei 2020 11:31 WIB
Diskusi Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan oleeh CLS Yogya
Diskusi Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan oleh CLS Yogya. (Foto: Istimewa)

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) mengecam tindakan teror terhadap pihak yang terkait dengan diskusi mahasiswa bertema 'Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan'. Terlebih diskusi ini akhirnya batal akibat teror yang menyasar pembicara hingga moderator dari diskusi itu.

Dekan FH UGM, Prof Sigit Riyanto mengatakan, FH UGM mengapresiasi dan mendukung kegiatan diskusi akademik mahasiswa dengan judul 'Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan' yang diselenggarakan oleh mahasiswa FH UGM yang tergabung dalam kelompok diskusi ilmiah mahasiswa Constitutional Law Society (CLS) pada tanggal 29 Mei 2020.

"Kegiatan ini merupakan salah satu wujud kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat yang selayaknya kita dukung bersama," kata Sigit melalui keterangan tertulisnya kepada wartawan, Sabtu (30/5/2020).

Selain itu, pihaknya mengecam adanya tindakan ancaman terhadap penyelenggara hingga orang tua penyelenggara. Menurutnya, tindakan itu adalah tindakan intimidatif.

"Mengecam sikap dan tindakan intimidatif terhadap rencana kegiatan diskusi yang berujung pada pembatalan kegiatan diskusi ilmiah tersebut. Hal ini merupakan ancaman nyata bagi mimbar kebebasan akademik, apalagi dengan menjustifikasi sepihak secara brutal bahkan sebelum diskusi tersebut dilaksanakan," ucapnya.

Karena itu, FH UGM perlu untuk melindungi segenap civitas akademika, termasuk semua yang terlibat di dalam kegiatan tersebut, terlebih dengan terjadinya intimidasi, teror, dan ancaman yang ditujukan kepada pihak-pihak di dalam kegiatan tersebut, termasuk keluarga mereka.

"Dalam hal ini, Fakultas Hukum UGM telah mendokumentasikan segala bukti ancaman yang diterima oleh para pihak terkait, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka melindungi segenap civitas akademika Fakultas Hukum UGM serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa ini," katanya.

Sigit melanjutkan, FH UGM juga mendorong segenap lapisan masyarakat untuk menerima dan menghormati kebebasan berpendapat dalam koridor akademik, serta berkontribusi positif dalam menjernihkan segala polemik yang terjadi di dalam masyarakat. Dia juga mengecam munculnya berita provokatif yang malah memperkeruh situasi saat ini.

"Mengecam berita provokatif dan tidak berdasar terkait dengan kegiatan akademis tersebut yang kemudian tersebar di berbagai media dan memperkeruh situasi. Hal ini mengarah pada perbuatan pidana penyebaran berita bohong, serta pencemaran nama baik," ujarnya.

"Fakultas Hukum UGM perlu menyampaikan pentingnya kesadaran hukum kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan tindakan kejahatan dan pelanggaran hukum, utamanya yang menyebabkan kerugian bagi pihak lain dan masyarakat umum," lanjut Sigit.

Terlepas dari hal tersebut, pihaknya juga menyampaikan empati setinggi-tingginya kepada keluarga mahasiswa yang mendapatkan tekanan psikologis akibat ancaman teror. Terlebih saat ini psikologis masyarakat sudah terkena akibat pandemi COVID-19.

"Hal tersebut seharusnya terjadi, terlebih di dalam situasi pandemi COVID-19 yang sudah cukup memberikan tekanan fisik dan mental kepada kita semua," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5