UII Bentuk Tim Investigasi Dugaan Kekerasan Seksual di Kampus

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Rabu, 29 Apr 2020 19:45 WIB
PORT-AU-PRINCE, HAITI - MARCH 05:  A  young sexual assault victim stands in a home with her family after they were relocated from a camp with the help of the United Nations High Commissioner for Refugees on March 5, 2012 in Port-au-Prince, Haiti. Currently the UNHCR is helping hundreds of sexual assault victims and their families through safe houses, counseling and income assistance programs that seek to give the woman and their families a new start in life. Sexual assaults against women have risen to epidemic levels in tent camps where around 500,000 Haitians who lost their homes in the earthquake still live in crammed conditions. Violence is up throughout the capital as donor money dries up and Haitians grow increasingly angry with the slow pace of reconstruction. Port-au-Princes homicide rate has shot up from below 10 per 100,000 in 2007 to more than 60 per 100,000 early this year.  (Photo by Spencer Platt/Getty Images)
Ilustrasi kekerasan seksual (Foto: Spencer Platt/Getty Images)
Sleman -

Universitas Islam Indonesia (UII) membentuk tim investigasi guna menyelidiki kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan alumnusnya berinisial IM. IM merupakan mahasiswa angkatan 2012 yang sudah lulus dan disebut melakukan kekerasan seksual.

"Kami sekarang sedang membentuk tim untuk melakukan itu (penelusuran), dan posisi kami tidak bisa memproses IM karena yang bersangkutan sudah lulus empat tahun yang lalu," kata Rektor UII Fathul Wahid saat dimintai konfirmasi wartawan, Rabu (29/4/2020).

Fathul menegaskan sikap UII yang tidak akan memberikan ruang terhadap praktik kekerasan seksual.

"Namun, jika itu (kekerasan seksual) benar adanya, UII dalam posisi tidak memberikan ruang sedikit pun untuk praktik kekerasan atau pelecehan seksual. Itu sikap UII," tegasnya.

Kasus ini disebut dilaporkan ke pihak kampus sejak dua tahun lalu, tapi tak mendapat respons. Namun Fathul menyebut hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan, dan mengaku baru tahu kasus ini kemarin.

"Yang pertama, saya lacak tidak pernah ada laporan resmi ke UII dan saya baca selebaran (rilis) itu kemarin, betul-betul kemarin," kata Fathul.

"Saya tidak pernah tahu sebelumnya. Terus kemudian saya lacak tidak pernah ada laporan resmi ke UII hingga saya menjabat sebagai rektor tidak pernah ada laporan itu," lanjutnya.

UII pun siap memberikan bantuan terhadap korban, baik itu pendampingan hukum maupun psikologi ke korban kekerasan.

"Jika itu (kekerasan seksual) benar adanya, kami sudah menghubungi LKBH Fakultas Hukum UII meminta bantuan untuk mendampingi korban jika ingin melaporkan ke aparat yang berwenang. Kemudian kami juga siap memberikan bantuan pendampingan psikologis," ujarnya.

Pihak kampus diketahui menjalin kerja sama dengan IM. Salah satunya IM kerap diundang untuk mengisi seminar. Fathul pun siap untuk tidak menggunakan jasa IM lagi jika kasus ini terbukti.

"Pasti, kalau kita sudah tahu dan itu terbukti, kita tidak akan kontak lagi dengan yang bersangkutan. Cuma ini kan baru sepihak dari aliansi. Kalau di dalam perspektif hukum harus ada proses pembuktian, kan itu juga harus kita junjung juga," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2