M Tamzil, Bupati Eks Napi Korupsi Kini Kembali Masuk Jeruji Besi

Akrom Hazami - detikNews
Selasa, 30 Jul 2019 15:21 WIB
M Tamzil -- Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Nama Muhammad Tamzil, belakangan menjadi buah bibir di kalangan warga Kabupaten Kudus hingga pemberitaan nasional. Dua kali menjabat bupati dengan waktu yang tak berurutan. Dua kali masa jabatannya itu berakhir dengan masalah hukum.

Jumat (26/7) lalu, KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap dirinya atas kasus dugaan suap jual-beli jabatan. Tamzil diduga menerima suap untuk membayar utang senilai Rp 250 juta. Tamzil dan staf khususnya Agus Soeranto dan Plt Sekretaris Dinas DPPKAD Kudus Akhmad Sofyan, ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan KPK.

Menilik sepak terjangnya di Kabupaten Kudus setahun belakangan, Tamzil adalah sosok pemimpin Kudus yang aktif di media sosial. Satu di antaranya di akun instagram @ir.tamzil punya 13,2 ribu pengikut. Di bio-nya tertulis politikus, akun pribadi Bupati Kudus periode 2018-2023.


Pantauan detikcom, Selasa (30/7/2019) siang, sudah ada 300 postingan. Terakhir aktivitas posting empat hari lalu. Pada Selasa (23/7) malam, saat menghadiri acara Jagong Pelataran, Tamzil mengaku akun medsos atas namanya itu bukan dia sendiri yang menjadi admin.

"Ada adminnya sendiri. Namun aktivitas admin saat mau unggah atau komen, harus terlebih dulu melalui persetujuan saya," ungkap Tamzil saat itu, menjawab pertanyaan salah satu hadirin yang bertanya sosok admin akun medsos Tamzil.

"Besok tanggal 24 Juli berarti saya sudah menjabat bupati 10 bulan," tambah dia dalam kesempatan itu.

Selain aktif di media sosial, Tamzil dianggap peduli dengan para ustaz, kiai, hingga guru ngaji. Melalui satu program kerjanya, dia menganggarkan honor Rp 1 juta per bulan kepada mereka. Saat kampanye, program itu bikin kepincut banyak kalangan. Terlebih di Kudus, ratusan ponpes, tempat mengaji, musala, masjid berdiri.


Ada sembilan program Tamzil-Hartopo saat kampanye. Yakni tunjangan Rp 1 juta per bulan untuk semua guru non PNS di PAUD/TK/Madin/RA/TPQ/SD/SMP/SMA/Madrasah, bantuan sosial bagi warga yang sakit di rumah sakit Kelas 3 dan santunan anak yatim piatu serta santunan kematian cair dalam satu hari lewat desa, pelatihan serta pendampingan 500 wirausahawan baru setiap tahun.

Selain itu, ada juga program bantuan sosial per bulan untuk khatib dan imam masjid/musala serta semua pemuka agama/semua tempat ibadah, pendampingan dan pemberdayaan petani melalui penyaluran pupuk yang tepat dan inovasi bibit serta penguatan pemasaran hasil panen, serta pemberdayaan ekonomi dan usaha warga melalui penyaluran bantuan modal usaha.

Tiga program unggulan lainnya meliputi pembinaan olaharaga, seni budaya dan komunitas kreatif untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, perlindungan dan pemberdayaan perempuan, kepala keluarga melalui pelatihan khusus kewirausahaan, dan pemberdayaan buruh melalui forum komunikasi PUK/SP/SB, perusahaan dan pemerintah daerah.
M Tamzil, 2 Periode Jadi Bupati Selalu Berujung di Jeruji BesiM Tamzil -- Foto: Akrom Hazami/detikcom
Senin, 24 September 2018, Tamzil menjalani pelantikannya di Semarang. Tamzil bersama pasangannya M Hartopo lalu datang ke Masjid Agung selepas jemaah salat zuhur. Keduanya sujud syukur di saf pertama masjid Agung Kudus.


Keluar dari masjid, suporter tim sepak bola Kudus, Persiku, menyambutnya. Bak sosok yang lama dirindukan di kalangan Persiku. "Bapak Persiku Kembali," demikian kalimat yang selalu dikumandangkan saat kampanye di Pilbup Kudus 2018.

Tamzil dianggap sosok pemimpin yang pernah mengangkat Persiku dalam kasta sepak bola tanah air. Tamzil dan Hartopo diusung Hanura, PKB, dan PPP di Pikada 2018. Tamzil berhasil meraih 42,51% suara, mengalahkan 4 pasangan calon lainnya.

Tamzil, pria yang sering mengenakan baju putih, celana hitam, sepatu hitam, serta peci hitam, memang pernah menjadi bupati di Kota Kretek sebelumnya. Yakni pada 2003-2008. Ketika itu Tamzil dengan pasangannya anggota DPRD Jateng, Noor Haniah. Pasangan itu merebut 26 dari 45 suara anggota DPRD Kudus, mengalahkan pasangan Mustofa-Asrofi.


Menilik perjalanan kariernya, pria kelahiran Ujung Pandang kelahiran 1961 Kepala Dinas PU Kabupaten Kudus tahun 1991, Wakil Bupati Semarang tahun 2000-2003, Bupati Kudus tahun 2003-2008, Staf Ahli Gubernur Jateng tahun 2008, Pejabat Fungsional Balitbang Jateng tahun 2013-2018, Bupati Kudus tahun 2018-2023.

Tamzil bahkan pernah maju sebagai calon gubernur Jateng pada Pilgub 2008 lalu, berpasangan dengan tokoh Muhammadiyah yang juga adik kandung Amien Rais, Abdul Rozaq Rais. Pencalonannya saat itu didukung oleh PAN dan PPP.

Dalam perbincangan kepada wartawan saat kali pertama menangi Pilbup 2018, dia mengungkapkan meski anak seorang jaksa, dia punya cita-cita sendiri. Yakni menjadi kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR). Itu terwujud saat akhirnya dia jadi kepala PUPR selama 10 tahun.


Kemudian timbul keinginannya jadi bupati. Alasannya ketika itu, untuk melayani dan membantu masyarakat. Dia mengaku, memang ingin membersihkan namanya di Kudus. Dia pernah tersandung kasus korupsi. Yaitu dana bantuan sarana dan prasarana pendidikan Kabupaten Kudus pada tahun 2014.

Dalam kasus tersebut, suami Rina Budhy Arini tersebut harus mendekam selama 1 tahun 10 bulan di penjara, hingga akhirnya bebas bersyarat pada Desember 2015.

"Yang berlalu sudah berlalu. Namun julukan 'mantan napi' jangan digoreng. Sebab saya ini hanya dikriminalisasi. Untuk itu saya ingin membersihkan diri," kata Tamzil ketika itu.


Namun sepertinya julukan 'mantan napi' yang hendak dihindari itu sepertinya akan semakin menjauh darinya. Kali ini dia sedang menghadapi tahap awal kasus hukum lain yang membuka lebar peluang dia kembali menjadi napi dalam kasus baru; suap 'dagang jabatan' di kabupaten yang dipimpinnya.


Kasus Tamzil, KPK Geledah Kantor Pemkab Kudus:

[Gambas:Video 20detik]



(mbr/mbr)