detikNews
Minggu 28 Juli 2019, 16:59 WIB

Jelang Kurban, Peternak di Brebes Cekoki Sapi dengan Jamu

Imam Suripto - detikNews
Jelang Kurban, Peternak di Brebes Cekoki Sapi dengan Jamu Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes - Menjelang Hari Raya Kurban 1440 Hijriyah, geliat persaingan bisnis hewan ternak di Brebes, Jawa Tengah sudah mulai terasa. Beragam cara pun dilakukan peternak untuk menarik pembeli, antara lain agar sapi yang akan dijual menjadi gemuk. Salah satu cara yang ditempuh adalah memberikan ramuan jamu tradisional khusus pendongkrak nafsu makan dan stamina sapi.

Salah satu peternak yang berinovasi memberikan jamu tradisional adalah Idi Fitriyadi (51), warga Desa Sisalam, Kecamatan Wanasari, Brebes. Peternak sapi ini memiliki cara khusus agar badan sapi tumbuh lebih gemuk, sehat juga bebas dari penyakit. Cara yang dipakai adalah memberikan ramuan jamu tradisional pendongkrak nafsu makan.

Menurut Idi Fitriyadi, dengan memberikan ramuan ini, sapi dagangannya bisa bersaing dan cepat laku terjual. Mengingat di tengah menjamurnya bisnis penjualan hewan kurban, persaingan antar pedagang makin ketat.

"Penjual seperti saya kan pengin pembeli tidak kecewa. Jadi saya pacu pertumbuhan sapi agar lebih gemuk. Caranya ya diberi ramuan jamu tradisional," kata Idi, saat ditemui di kandang sapinya, Minggu (28/7/2019) sore.
Meracik jamu untuk sapiMeracik jamu untuk sapi Foto: Imam Suripto/detikcom

Ramuan jamu tradisional yang diracik ini berfungsi sebagai jamu penambah nafsu makan. Dengan jamu ini, sapi dagangannya tumbuh lebih cepat karena nafsu makan meningkat sehingga jumlah porsi makannya juga bertambah.

Secara umum, bahan ramuan jamu tradisional ini, hampir sama dengan jamu penambah nafsu makan pada manusia. Bahan yang dipakai terdiri dari aneka rempah, yaitu kunyit hitam, kunyit putih, jahe merah, jahe biasa, temulawak, sereh dan garam. Ada pula pemanis dari tetes tebu atau pohot serta telur ayam. Bahan bahan itu ditumbuK halus kemudian dicampur air dan direbus hingga mendidih.

"Bahan bakunya semua dari bahan tradisonal. Tidak ada bahan kimia yang berbahaya. Sama sebenarnya dengan jamu penambah nafsu makan pada manusia," sambung Idi.

Setelah matang, tramuan ini didinginkan di suhu ruangan. Selanjutnya, ramuan diberikan ke tiap binatang ternak miliknya. Dalam sehari, sapi-sapi ini diberikan jamu sebanyak dua kali, pagi dan sore.

Idi Fitriyadi menuturkan, setelah ternaknya diberi minum ramuan jamu tradisional tersebut, bobot sapi sapi miliknnya bertambah. Tambahan bobotnya bervariasi antara 25 sampai 30 persen dari sapi biasa yang tidak diberi jamu jamuan ini.

Idi Fitriyadi memperkirakan, setelah diberi ramuan ini, terjadi penambahan bobot antara 25 sampai 30 persen. Sejak diberi ramuan, saat ini bobot hidup sapi miliknya rata rata tujuh kwintal lebih. Sebelumnya, dia mengaku bobotnya hanya berkisar lima kwintal.

Dengan bobot tujuh kwintal ini, bisa mendapatkan daging sebanyak 130 kilogram. Sementara bila tidak diberikan ramuan jamu, daging sapi yang dihasilkan hanya berkisar 100 kilo gram.

"Dengan jamu ini (sapi) makannya luar biasa, terhindar dari cacing dan lahap sekali. Bobotnya bisa bertambah mencapai 25 sampai 30 persen," terangnya.

Meski rutin diberikan ramuan jamu tradisional, Idi secara rutin tetap memeriksakan secara medis hewan ternaknya ini. Secara berkala, peternak ini mendatangkan petugas peternakan untuk mengontrol kesehatannya.



Simak Juga 'Ini Rambo, Sapi yang Sempat Dilirik Jokowi Sebelum Pilih Tyson':

[Gambas:Video 20detik]


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com