DetikNews
Kamis 24 Januari 2019, 16:54 WIB

Kemenag: Kami Tidak Berikan Data Masjid ke 'Indonesia Barokah'

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kemenag: Kami Tidak Berikan Data Masjid ke Indonesia Barokah Ribuan tabloid 'Indonesia Barokah' yang dikirim via pos. (Foto: Ristu Hanafi/detikcom)
Semarang - Ternyata web milik Kemenag memuat lengkap alamat hingga detail kondisi fisik masjid. Namun demikian Kanwil Kemenag Jateng menampik dikaitkan dengan pengiriman tabloid 'Indonesia Barokah' yang dikirimkan ke masjid-masjid di Jawa Tengah via pos.

Kasubag Humas Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah, M. Afief Mundjir, mengatakan pihaknya memang memiliki data masjid dan memang banyak pihak yang datang ke kantor perwakilan Kemenag untuk meminta data masjid di wilayah tertentu dengan kepentingan yang berbeda.

"Misal dari BPS juga meminta data itu terkait update tempat ibadah. Ada juga dari KPU, ormas, Dewan Masjid Indonesia, bahkan caleg," kata Afief di kantornya, Semarang, Rabu (24/1/2019).


Terkait caleg, biasanya meminta untuk data pemetaan dapilnya. Afief pun menegaskan kalau data itu hak publik dan siapapun bisa mendapatkannya. Terkait pemanfaatan data untuk apa hal itu menjadi tanggungjawab masing-masing. "Ini data hak publik," tegasnya.

Bahkan data tersebut sebenarnya bisa diakses langsung oleh masyarakat tanpa harus datang ke kantor Kemenag karena bisa di akses di simas.kemenag.go.id yang merupakan sistem informasi masjid.

"Di simas itu lengkap dengan alamat. Jadi ketika ada pihak yang memiliki data lengkap itu, bukan hal yang istimewa," jelas Afief.


detikcom mencoba mengakses web tersebut dan benar saja detail masjid bisa diperoleh bahkan per kategori antara masjid raya, masjid agung, masjid jami dan sebagainya. Alamat, luas tanah, status tanah, hingga jumlah jamaah juga bisa diperoleh.

Kemenag pun menegaskan pihaknya tidak berarti memberikan data khusus ke pihak tertentu karena data tersebut bisa diakses luas. Meski demikian memang saat ini belum diketahui pasti dari mana pengirim tabloid 'Indonesia Barokah' bisa mendapatkan alamat masjid untuk pengiriman.

"Kemenag ingin clear-kan, bukan berarti berafiliasi ke arah tertentu. Bagi yang tidak paham kenapa ('Indonesia Barokah') bisa dapat detail lengkap, bisa berpikiran jangan-jangan ada orang dalam Kemenag, tidak begitu," jelas Afief.


"Tidak menutup kemungkinan kelompok tertentu menggunakan untuk kepentingan politik, tapi bukan berarti Kemenag memberikan data untuk itu. Jangan sampai masjid jadi tempat berpolitik," tegasnya.

Untuk diketahui, peredaran Indonesia Barokah ternyata terjadi di berbagai daerah di Jawa Tengah dengan menyasar masjid-masjid. Tabloid itu dikemas amplop cokelat dengan isi 3 eksemplar tiap amplop.


Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu


(alg/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed