Dibongkar, Bangunan Cagar Budaya di Cihampelas Berubah jadi Minimarket

ADVERTISEMENT

Kota Bandung

Dibongkar, Bangunan Cagar Budaya di Cihampelas Berubah jadi Minimarket

Wisma Putra - detikNews
Senin, 31 Jan 2022 12:58 WIB
Bangunan cagar budaya yang kini jadi mini market di Cihampelas, Kota Bandung
Bangunan cagar budaya yang kini jadi mini market di Cihampelas, Kota Bandung
Bandung -

Bangunan yang masuk dalam kategori cagar budaya di Jalan Cihampelas No 149, Kota Bandung berubah menjadi minimarket usai dibongkar oleh PT KAI. Pantauan detikcom Senin (31/1/2022), di belakang bangunan minimarket tersebut saat ini sedang didirikan bangunan masjid.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung Dewi Kaniasari membenarkan jika bangunan tersebut merupakan bangunan cagar budaya.

"Masjid 'Nurul Ikhlas' Jl Cihampelas 149 Bandung, menurut Lampiran di Perda No 7 Tahun 2018 tentang cagar budaya masuk kedalam daftar bangunan cagar budaya golongan C," kata Kenny sapaan karib Dewi Kaniasari via pesan singkat.

Sementara itu, Kabid Cagar Budaya Disbudpar Kota Bandung Deni Kurniadi mengatakan, Perda No 7 Tahun 2018 tentang bangunan cagar budaya di dalam lampiran ada Cihampelas 149 termasuk gedung cagar budaya golongan C.

Deni menyebut, pihaknya tidak menerima pengajuan revitalisasi atau rehabilitasi bangunan cagar budaya tersebut. Menurutnya, untuk mengubah atau merehabilitasi bangunan cagar budaya memerlukan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bentukan Walikota Kota.

"Di Bandung ada Tim Ahli Cagar Budaya yang dibentuk Pak Wali Kota, kami dari Disbudpar tidak menerima pengajuan dari PT KAI, karena kalau bangunan cagar budaya mau direhab atau direvitalisasi harus ada rekomendasi dari TACB," kata Deni.

Deni mencontohkan, seperti gedung cagar budaya Rumah Kentang yang berada di Jalan Aceh dilakukan rehab karena kondisi bangunan sudah rusak dan mendapatkan rekomendasi dari TACB.

"Seperti bangunan Rumah Kentang, di depannya ada bangunan yang dipugar, itu bangunan hritage, itu milik Kementerian Keuangan. Bangunan itu sudah rusak, mengajukan ke kita untuk direvitalisasi, kalau revitalisai itu harus dengan gambar dan segala macam, oleh kita diajukan ke TACB seperti mekanisme," ungkapnya.

Jika sudah mendapat rekomendasi dari TACB maka akan ada rekomendasi pagi dari Distaru dan harus mengantongi izin dari DPMPTSP.

"Di TACB baru disidangkan bangunan aslinya harus seperti apa, baru dari situ setelah rekomendasi datang ke Distaru itu ada Tim Ahli Bangunan dan Gedung, setelah itu mengurus izin DPMPTSP untuk membangun, itu prosedurnya," katanya.

Pihaknya menegaskan, jika PT KAI tidak melakukan pengajuan. "Kami dari Disbudpar tidak mendapatkan pengajuan, baik revitalisasi atau dipugar dari PT KAI," tuturnya.

"Kita sudah lakukan pendekatan ke PT KAI, kunjungan dan sebagainya, dari tahun 2019 kita datang bersama dengan Kang Edwin (anggota DPRD) ke 149, kita nunggu pengajuannya, sampai saat ini kita tidak mendapatkan dan menerima kenyataan untuk rehab atau revitalisasi," pungkasnya.

Tanggapan PT KAI

PT KAI Daop 2 Bandung angkat bicara bicara mengenai bangunan cagar budaya yang menjadi minimarket tersebut.

"Pertama yang jelas bahwa di lokasi tersebut tidak ada plang yang menjelaskan itu adalah bangunan heritage," kata Manager Humas Daop 2 Bandung Kuswardoyo via sambungan telepon, Senin (31/1/2022).

PT KAI tidak pernah mendaftarkan bangunan tersebut agar dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

"Kedua, seandainya itu bangunan heritage siapa yang mendaftarkan itu kami tidak terinformasikan," ujarnya.

"Ketiga, mesjid itu dinyatakan sebagai bangunan heritage, sementara masjid yang dimaksud tidak ada dan tidak terdaftar di MUI dan KUA, yang ada di lokasi tersebut adalah bangunan rumah perusahaan PT KAI," ungkapnya.

Saat disinggung terkait bangunan heritage tersebut terdaftar sebagai cagar budaya di Disbudpar Kota Bandung. Kuswardoyo kembali tegaskan bangunan itu tidak terdaftar sebagai bangunan cagar budaya.

"Itu kan yang terdaftar disitu 'Mesjid Nurul Ikhlas', sedangkan kami kan tidak tahu karena tidak terdaftar di MUI, yang kami tahu ini rumah perusahaan. Kami tidak pernah membongkar, tidak pernah menggusur masjid apapun yang kami ambil aset milik PT KAI rumah perusahaan yang dikamuflasekan jadi masjid oleh orang-orang di situ," ucapnya.

Kuswardoyo menyebut, jika pihaknya mengantongi surat izin pembangunan dari Distaru Kota Bandung.

"Kemudian jika memang apa yang kami lakukan salah, dalam artian kami membongkar itu masjid, tentunya pemerintah daerah tidak akan mengeluarkan surat keterangan terkait pembangunan masjid yang ada dari dinas tata ruang," tuturnya.

"Surat izin dari Dinas Tata Ruang, untuk toko dan masjid," tambahnya.

Kuswardoyo kembali tegaskan, jika rumah itu milik perusahaan PT KAI.

"Tidak ada maslah apapun dengan Dinas Tata Ruang dan sebagainya, memang di sana kami sedang membangun masjid bukan mengganti masjid yang lama karena di situ enggak ada masjid dan kami paham di lokasi tersebut dibutuhkan area masjid itu. Memang diperlukan area masjid, karena masjidnya jauh, dari ada permintaan dari masyarakat agar PT KAI membangun masjid di situ karena ada rumah yang diklaim sebagai masjid oleh orang tertentu," pungkasnya.

Simak juga 'Wajah Teras Cihampelas Usai Ditinggal Pedagang':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT