Cerita Sang Penarik Rakit Eretan di Aliran Sungai Citarum

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 26 Jan 2022 08:12 WIB
Agus menarik rakit eretan moda transportasi warga Sekecengek, Batujajar Kabupaten Bandung Barat
Agus menarik rakit eretan moda transportasi warga Sekecengek, Batujajar Kabupaten Bandung Barat (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)
Bandung -

Agus, warga Kampung Sekecengek, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dengan penuh semangat menarik tambang yang membentang di atas aliran Sungai Citarum yang mengalir ke Waduk Saguling.

Hal itu dilakukan Agus agar rakit eretan yang mengangkut orang hingga motor itu bisa melaju dari satu sisi ke sisi yang lain. Warga di Kampung Sekecengek dan kampung tetangganya memanfaatkan rakit eretan itu untuk memperpendek jarak dan waktu tempuh bila hendak berpergian.

Bila melalui jalan biasa, warga perlu menempuh jarak hingga 7 kilometer untuk mencapai Pasar Batujajar dengan waktu tempuh 20 sampai 30 menit. Sementara jika menggunakan rakit eretan, warga bisa memperpendek waktu tempuh hingga 20 menit.

"Ya lumayan banyak yang nyeberang pakai eretan ini. Setiap hari ada, kalau motor mungkin sekitar 20 kalau orang ya 50," ungkap Agus kepada detikcom, Selasa (25/1/2022).

Rakit eretan itu, kata Agus, merupakan hasil patungan warga. Mereka membeli semua peralatan mulai dari tambang dengan panjang kurang lebih 250 meter, bambu, papan, hingga drum plastik sebagai penopang rakit agar bisa mengapung di air.

Jangan bayangkan rakit eretan yang kokoh dengan alas papan. Rakit yang dioperasikan Agus disusun dari bilah bambu sebagai alasnya kemudian untuk pegangannya menggunakan balok yang dibentuk sedemikian rupa agar aman bagi penumpangnya.

"Jadi ini semua urunan warga, kalau berapa biayanya saya juga kurang tahu pasti. Tapi kalau tidak salah lebih dari Rp 5 juta," tutur Agus.

Bersama tiga orang rekannya, Agus diberi mandat oleh Ketua RW untuk mengoperasikan rakit eretan tersebut. Sejak pukul 05.00 sampai 23.00, Agus setia menanti pelanggan yang hendak menyeberang.

Sebelumnya pria berusia 40 tahun itu berprofesi sebagai pekerja serabutan. Bertani, tukang bangunan, dan pekerjaan apapun dilakoni Agus yang penting ia bisa membawa uang untuk anak istrinya di rumah.

"Kalau saya dikasih tugas buat jaga eretan, ya nurut saja. Mulainya dari pagi sampai jam 11 malam. Sehari paling dapat Rp 100 ribu, itu juga harus dibagi 2 terus dipotong kas buat perawatan rakit," ungkap Agus.

Aliran Sungai Citarum tempat rakit eretan itu beroperasi memiliki lebar 50 meter. Namun jika air sedang pasang maka lebarnya bisa bertambah hingga 200 meter. Waktu tempuh naik rakit eretan itu juga tak terlalu lama, hanya 5 menit.

Rakit eretan berukuran 4x12 meter itu bisa mengangkut hingga 12 motor untuk sekali jalan. Namun kata Agus, lebih aman jika beban yang diangkut tidak terlalu berlebihan.

"Bisa sampai 12 motor, tapi jarang kalau yang naik langsung segitu. Paling cuma satu atau dua motor," ucap Agus.

Untuk sekali jalan, warga yang menggunakan moda transportasi tenaga manusia itu tak dipatok tarif tertentu. Seikhlasnya saja, kadang ada juga yang tak membayar. Namun hal itu tak terlalu dipermasalahkan.

"Alhamdulillah sejak awal pandemi rakit ini beroperasi sudah banyak yang terbantu. Kita enggak matok tarif harus berapa, seikhlasnya saja karena kan memang buat warga," tutur Agus.

Sambil naik rakit eretan meskipun waktu tempuhnya singkat, namun pengalaman yang ditawarkan tentunya sangat berbeda dengan naik moda transportasi lainnya. Apalagi penggunanya bisa sambil melihat pemandangan aliran Sungai Citarum yang di sepanjang tepiannya berjejer bapak-bapak yang hobi mancing.

(yum/bbn)