Desak Arteria Dahlan Minta Maaf, AMS: Masyarakat Sunda Terusik-Terhina

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 14:25 WIB
Arteria Dahlan (Rahel Narda Chaterine/detikcom).
Foto: Arteria Dahlan (Rahel Narda Chaterine/detikcom).
Bandung -

Pernyataan anggota DPR RI Arteria Dahlan terkait permintaannya agar Kajati yang berbicara bahasa Sunda dipecat menuai kontroversi. Bahkan, kelompok masyarakat Sunda meminta agar Arteria meminta maaf atas ucapannya itu.

"Kami sebagai bagian dari masyarakat Sunda dan Jawa Barat meminta kepada saudara Arteria Dahlan untuk meminta maaf kepada masyarakat Sunda atas ucapannya. Secara Ksatria, berikan contoh layaknya seorang politisi dan pejabat publik yang baik, yang mengayomi masyarakat, bukan membuat gaduh dengan ucapan-ucapan yang membuat ketersinggungan masyarakat," ucap Ketua Umum Pengurus Pusat Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Noeri Ispandji Firman dalam keterangannya, Selasa (18/1/2022).

Noeri menuturkan pernyataan Arteria tersebut jelas menyakiti perasaan masyarakat Sunda. Terlebih, kata dia, selama ini masyarakat di Jawa Barat menghargai nilai-nilai budaya.

"Jangan lupa di wilayah Jawa Barat banyak para pejabat publik yang berasal di luar suku Sunda yang suka menggunakan bahasa daerahnya. Tetapi oleh masyarakat Sunda selalu dihormati sebagai bentuk menghargai budaya masing-masing," tuturnya.

Dia menilai ucapan Arteria tersebut tak mencerminkan sebagaimana pejabat publik. Menurut dia, seharusnya Arteria menghargai setiap perbedaan.

"Kami sebagai bagian dari masyarakat Sunda terusik dan merasa terhina dengan pernyataan Arteria Dahlan yang tidak menghargai nilai budaya bangsa. Padahal seorang Arteria Dahlan dibesarkan oleh Partai PDIP yang mengedepankan nilai persatuan dan menghargai perbedaan budaya dan bangsa," ujarnya.

"Tidak elok bagi seorang anggota dewan, Arteria Dahlan berkata seperti itu. Padahal banyak para pejabat di negara ini yang selalu menggunakan bahasa daerah dalam setiap komunikasi baik formal maupun informal," kata dia menambahkan.

Seniman asal Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah menyayangkan sikap arogan dari Arteria. Ia mengatakan bahasa daerah itu sejatinya merupakan puncak dari bahasa nasional.

"Pernyataan Arteria Dahlan ini menurut saya sangat berbahaya. Bisa mengusik kesatuan dan persatuan bangsa," kata Ashmansyah.

Selain itu Ashmansyah juga meminta Arteria Dahlan membaca kembali UUD 1945, terutama pasal 32 ayat 2. "Bahasa daerah itu dilindungi pasal 32 ayat 2 UUD 1945, coba itu politisi suruh baca kembali," katanya.

Pasal 32 UUD 1945 sendiri pada ayat 1 berbunyi "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya."

Kemudian ayat 2 berbunyi "Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional,".

Sementara itu akademisi dari Universitas Pasundan Bandung Thomas Bustomi menilai sikap Arteria Dahlan itu di luar kontrol. "Arteria out of control," kata Thomas.

Dia menambahkan bahwa bahasa Indonesia itu banyak yang berasal dari bahasa daerah di tanah air. "Bahasa Indonesia itu tinggi serapan katanya dari berbagai bahasa daerah," kata Thomas.

Thomas mengaku menyesalkan sikap anggota DPR tersebut dan menurutnya perlu mendapat teguran. "Sebaiknya patut mendapat kartu kuning orang yang sombong ini," kata Thomas.

Sebelumnya, saat rapat kerja bersama Jaksa Agung ST Burhanuddin, Senin (17/1), Arteria meminta jajaran Kejaksaan Agung bersikap profesional dalam bekerja. Arteria lantas menyinggung seorang kepala kejaksaan tinggi yang menggunakan bahasa Sunda ketika rapat kerja. Dia meminta Jaksa Agung (JA) ST Burhanuddin memecat kajati tersebut.

"Ada kritik sedikit, Pak JA. Ada kajati yang dalam rapat dan dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti, Pak, itu," katanya.

Arteria menyayangkan sikap kajati yang menggunakan bahasa Sunda saat rapat. Menurutnya, seharusnya kajati itu menggunakan bahasa Indonesia.

"Kita ini Indonesia, Pak. Jadi orang takut kalau ngomong pakai bahasa Sunda nanti orang takut ngomong apa dan sebagainya," ujarnya.

"Kami mohon sekali yang seperti ini dilakukan penindakan tegas," imbuh dia.

(yum/bbn)