Balada Pengrajin Boboko Sumedang di Tengah Pagebluk COVID-19

Nur Azis - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 16:50 WIB
Pengrajin Boboko di Sumedang.
Foto: Pengrajin Boboko di Sumedang (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Seorang perempuan tampak khusyuk menganyam bambu di depan teras sebuah rumah panggung di Kampung Awi Lega, Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Tangannya begitu piawai menganyam bambu menjadi sebuah boboko nasi (tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu).

Boboko mungkin kalah pamor dibanding tempat nasi yang lebih modern. Namun siapa sangka, bagi para warga di desa ini, boboko menjadi penolong sebagai pemenuh kebutuhan pokok di masa pandemi Covid-19 seperti ini.

Wiwin Wintarsih (48), ibu rumah tangga, menjadi salah seorang pengrajin boboko dari ratusan pengrajin yang ada di Desa Genteng. Menurutnya, kerajinan boboko sangat membantu di masa sulit seperti ini.

"Boboko ini cukup menolong, uangnya kecil tapi lakunya cepat, asal kita mau dan telaten jadi lumayan bisa membantu ekonomi warga sini," kata Wiwin saat ditemui detikcom, Minggu (1/8/2021).

Untuk di kampung, Boboko mungkin salah satu usaha yang tidak terpengaruh oleh pandemi COVID-19. Bahkan diakui Wiwin, permintaan boboko justru malah meningkat.

"Justru permintaan malah naik, karena banyak juga yang pesan untuk kegiatan selamatan orang meninggal," ujarnya.

Untuk diketahui, warga Desa Genteng hampir sebagian besar berprofesi sebagai petani tembakau. Namun, sejak harga tembakau anjlok akibat pandemi COVID-19, kerajinan boboko menjadi penopang utama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau jual tembakau itu uangnya tidak bisa langsung karena proses pembuatan tembakau jadi bako rokok prosesnya lama, apalagi saat pandemi seperti ini kalau dijual bisa sangat rugi karena harganya turun jadi setengahnya, sedangkan modalnya besar takutnya kalau dijual sekarang, nanti modalnya bisa habis," ungkap Wiwin.

Pengrajin Boboko di Sumedang.Pengrajin Boboko di Sumedang. Foto: Nur Azis

Di masa pandemi seperti ini, kata Wiwin, warga Desa Genteng hampir seluruhnya mengandalkan penghasilan dari kerajinan boboko.

"Untuk sekarang mau kaya mau miskin, di sini semuanya mengandalkan dulu dari boboko tidak dari tembakau, kalau rajin bahkan ada yang bisa sampai ke beli sawah meski sepetak kecil," katanya

Wiwin menyebutkan, satu boboko besar dibandrol dengan harga Rp 25 ribu, sementara untuk boboko berukuran kecil harganya bervariasi dari mulai Rp 8.000 sampai Rp 15 ribu.

"Jadi satu batang bambu seharga Rp 20 ribu bisa menghasilkan empat boboko atau seharga Rp 100 ribu dipotong biaya tali anyaman dan soko atau dudukan bobokonya," terangnya.

Keterampilan membuat boboko menjadi keahlian turun temurun di Desa Genteng. Dalam pembuatannya pun dibutuhkan keterampilan dan ketelitian.

"Buyut dan kakek-kakek kami dari dulu sudah membuat anyaman bambu ini bahkan jadi mata pencahariannya," ungkapnya.

Pengrajin boboko lainnya, Titin (45) mengaku kerajinan boboko baginya menjadi sumber ekonomi utamanya selain dari suaminya yang bekerja sebagai kuli di perantauan.

"Selain uang dari suami, bagi kami kerajinan ini jadi sumber pemasukan juga," katanya.

Hasil dari kerajinan buatannya, biasa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari.

"Lumayan bisa buat makan dari kerajinan ini, asalkan mau dan rajin aja," ujarnya.

Simak juga 'Pengrajin Rebana, Syiar Agama yang Menghasilkan Materi':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)