Rugi hingga 50%, Petani Tembakau Sumedang Berharap PPKM Tak Diperpanjang

Nur Azis - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 13:38 WIB
Petani Tembakau di sentra produksi bako di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang sedang menjemur daun tembakau yang telah dicetak untuk siap dijadikan bako rokok.
Foto: Petani Tembakau di sentra produksi bako di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang sedang menjemur daun tembakau yang telah dicetak untuk siap dijadikan bako rokok (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

PPKM level 1-4 yang akan berakhir, Senin (2/8) besok, disambut baik oleh para petani tembakau di Kampung Bako, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Sebab, selama PPKM para petani mengalami kerugian hingga 50 persen.

"PPKM sangat berpengaruh kepada petani tembakau sebab para bandar tembakau kesulitan untuk datang membeli ke sini karena adanya pembatasan sosial," ungkap seorang petani tembakau Tata Azhari saat ditemui detikcom, Minggu (1/8/2021).

Dia menjelaskan proses tembakau menjadi bako rokok dimulai dari daun, pemotongan, pencetakan hingga menjadi satu pak besar lembar bako rokok. Akibat PPKM, dari 20 lembar bako yang biasanya dihargai Rp 500 ribu hanya mampu dijual dengan harga Rp 250 ribu saja kepada bandar.

"Semisal saya kemarin jual dari satu ton tembakau yang biasa harganya Rp 5 juta jadi Rp 2,5 juta atau Rp 3,5 juta, karena mobilitas para pembeli yang akan menjualnya kembali sangat terbatas, kerugian sampai 50 persenlah rata-rata," terangnya.

Dia berharap kondisi pandemi bisa cepat berakhir. Selain itu, dia juga berharap PPKM tidak dilanjutkan agar roda perekonomian bisa kembali berjalan normal.

"Kalau PPKM jadi serba terbatas sementara para petani juga lahannya ada yang berada jauh di Sumedang Selatan, begitupun bagi para bandar bako, mereka kesulitan masuk ke desa kami," terangnya.

Hal yang sama dirasakan petani tembakau lainnya, Yana Taryana (65). Akibat adanya PPKM, harga bako rokok miliknya menjadi anjlok lantaran para bandar mengalami kesulitan saat akan memasarkannya.

"Sebelum COVID, 20 pak lembar bako rokok harganya bisa sampai mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Namun setelah adanya COVID turun jadi 250 ribu," ujarnya.

Dia memaparkan bako rokok hasil produksinya biasanya dijual kembali ke berbagai daerah oleh para bandar. Bako tersebut dijual di antaranya ke Jawa tengah, Jawa Timur, Palembang, Aceh dan daerah lainnya.

"Seperti kemarin para bandar yang akan menjual tidak bisa masuk ke Jawa tengah karena ada pembatasan, bahkan bako saya tahun lalu pun ada yang masih belum terjual," ungkapnya.

Seperti diketahui, Kecamatan Sukasari sudah sejak dulu menjadi sentra para petani tembakau di Kabupaten Sumedang. Komoditi tembakau menjadi penopang utama bagi kehidupan warganya.

(mso/mso)