Melihat 'Razia Perut Lapar' di Kuningan Saat PPKM Darurat

ADVERTISEMENT

Melihat 'Razia Perut Lapar' di Kuningan Saat PPKM Darurat

Bima Bagaskara - detikNews
Senin, 19 Jul 2021 12:27 WIB
Razia Perut Lapar di Kuningan
Aksi 'Razia Perut Lapar' di Kuningan. (Foto: Bima Bagaskara/detikcom)

Terdampak PPKM Darurat, 29 Karyawan Dirumahkan

Di balik aksi solidaritas dengan membagikan nasi bungkus, rupanya usaha yang dijalani Luthfy juga ikut terdampak PPKM Darurat. Luthfy yang memiliki tiga kedai mi ramen ini mengalami penurunan omzet hingga 95 persen karena tidak diperbolehkan melayani makan di tempat (dine-in).

"PPKM untuk usaha saya sendiri sangat berdampak. Omzet menurun banget hingga 95 persen, hancur pokoknya," ucapnya.

Razia Perut Lapar di KuninganAksi 'Razia Perut Lapar' di Kuningan. (Foto: Bima Bagaskara/detikcom)

Bahkan kedai mi ramen Luthfy juga sempat terjaring razia PPKM dan dikenakan denda sebesar Rp 5 juta. Saat itu dia mengaku masih ada pembeli yang makan di tempat.

"Kemarin sempat kena denda juga kita Rp 5 juta, karena kita ada yang makan di tempat. Tadinya kita take away, kemudian pas saya bolak-balik di Kuningan banyak yang masih melayani ditempat, makanya saya juga ikut aja buka melayani pembeli tapi gataunya ada razia," tuturnya.

Akibat PPKM Darurat ini ada 29 karyawan di tiga kedai miliknya yang terpaksa dirumahkan. Hal tersebut terpaksa Luthfy lakukan karena tidak cukupnya pemasukan yang didapat untuk membayar gaji karyawan.

"Kita ada tiga outlet, untuk di Cirebon kita tutup karena omzetnya benar-benar ngga masuk, ada empat karyawan di sana dirumahkan. Di Ciawi ada 6 karyawan, tetap buka kita layani takeaway cuma berdua sisanya dirumahkan, yang di pusat di Manislor dari 25 karyawan sekarang cuma 4 yang kerja, 21 pegawai karyawan," ucap Luthfy.

Karyawannya yang mayoritas janda dan ibu rumah tangga itu tidak lagi memiliki penghasilan. Bahkan, kata dia, untuk makan sehari-hari saja karyawannya mulai kebingungan.

Luthfy pun merasa bertanggung jawab atas apa uang terjadi terhadap karyawannya yang sedang dirumahkan. Untuk itu, tiap hari dia juga mensuplai makanan untuk para karyawannya.

"Untuk karyawan yang dirumahkan karena kita kan banyaknya janda, ibu rumah tangga yang ada di sekitar kedai, jadi mereka selama dirumahkan ga ada buat makan gajinya sudah habis. Akhirnya kita mensuplai makanan buat mereka, tiap hari mereka datang buat ambil makan ke kedai," ucap Luthfy.


(bbn/bbn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT