Membangkitkan Asa di Bekas Bioskop Dian Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 19 Des 2020 21:27 WIB
Tisna Sanjaya dan Bioskop Dian
Tisna Sanjaya (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung -

Tembakan sinar bergambar kembali mencumbu dinding kusam Bioskop Dian di Jalan Balonggede, Kota Bandung, Sabtu (19/12/2020), setelah kurang lebih dua puluh tahun tak jumpa. Gedung Bioskop yang dibangun tahun 1930 itu memang pernah berjaya pada masanya. Tapi kejayaan itu sirna memasuki akhir tahun 1990-an seiring dengan berkembangnya bioskop modern.

Seniman Tisna Sanjaya yang sedang asyik menonton film bisu di aula bekas bioskop yang usang itu, mendadak berdiri dari tempat tidurnya. Ia mengambil selang dan menyemprotkan air ke dinding bioskop yang awalnya diberi nama Radiocity. Ia bertingkah seperti orang yang marah.

Keganjilan tak berhenti di sana, pria berambut panjang ikal itu kemudian mengambil cemeti dan mencambuk kasur-kasur yang jadi tempat penonton bersantai. Lampu cempor yang menyalakan lampu temaram tak pelak dari sasaran cemetinya.

Setelah tensi mereda, ia menyimpan cemeti di dekat tempat tidurnya. Tisna kembali meraih selang air, kali ini ia bersuci dan sekaligus menutup penampilannya yang disambut tepuk tangan dari para hadirin.

Aksi tersebut merupakan bagian dari pameran tunggal Tisna yang bertajuk Dian Lentera Budaya. Aksi ini digagas untuk menumbuhkan spirit perubahan di gedung yang masuk ke dalam bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh BUMD Jaswita Jabar.

Tisna Sanjaya dan Bioskop DianPameran tunggal Tisna Sanjaya yang bertajuk Dian Lentera Budaya. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Di masa lalu, film komedian Charlie Chaplin dan film lokal Lutung Kasarung pernah mengundang decak kagum dari penonton yang kala itu didominasi meneer dan noni. Seiring dengan mulai ngetrennya film-film Bollywood, selera pasar pun berubah hingga akhirnya muncul bioskop modern yang menumbangkan pamor Bioskop Dian.

Setelah itu, Bioskop Dian hanya tinggal namanya saja. Faktanya, bangunan ini beralih-alih fungsi mulai dari tempat biliar, baju hingga menjadi terakhir menjadi tempat futsal. Setelah itu Bioskop Dian hanya menjadi kuburan tikus, karena banyak ditemukan bangkainya di sana.

"Saya mengimajinasikan bahwa bangunan ini menjadi pusat kebudayaan dunia. Saya berharap di sini harus ada kebudayaan yang berpihak kepada kemanusiaan, kelestarian alam, demokratisasi, siap toleransi supaya kita bisa bergaul dengan berbagai macam agama, politik dan berbagai macam lainnya," kata Tisna.

Selanjutnya
Halaman
1 2