ADVERTISEMENT

Mengenal Kertas Daluang Warisan Budaya yang Hampir Punah

Siti Fatimah - detikNews
Selasa, 15 Des 2020 14:58 WIB
Kertas daluang buatan Bandung.
Foto: Kertas Daluang (Siti Fatimah/detikcom).
Bandung -

Siapa sangka Indonesia punya kertas setara dengan kertas Hanji asal Korea, kertas Washi asal Jepang, atau kertas Papyrus asal Mesir. Di Indonesia, kertas bernilai tinggi akan sejarah itu bernama Kertas Daluang.

Kertas Daluang masih dapat ditemukan di Bandung meskipun tidak mudah untuk menemukannya. Pasalnya pembuat kertas tersebut sudah sangat jarang ditemukan. Selain di Bandung, pembuat kertas Daluang juga bisa ditemukan di Garut.

Di negara tetangga, kertas washi bisa didapat dengan mudah dan dijadikan sebagai buah tangan khas Jepang. Di Mesir, Papyrus menjadi warisan eksklusif apalagi Hanji di Korea. Sedangkan di Indonesia, nasib kertas Daluang nyaris dilupakan dan diabaikan.

Generasi millenial mungkin jarang mendengar kertas Daluang. Padahal kertas tersebut merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Patut diketahui, sebelum ada kertas industri, kertas Daluang inilah yang dipakai untuk menulis.

Salah satu pembuat kertas Daluang di Bandung Ahmad Mufid Sururi mengaku mempelajari pembuatan kertas Daluang sejak 2006 melalui berbagai macam literatur. Dia menyebut saat ini pembuat asli kertas Daluang secara turun temurun sudah tidak ada.

"Warisan budaya ini sempat terputus, lalu karena saya punya pengalaman mengenai pengolahan kertas seperti dari sampah organik dan saat mendengar kita (Indonesia) punya kertas Daluang kenapa tidak dihidupkan kembali," kata Mufid (46) saat ditemui di galerinya, Jalan Koperasi Raya nomor 3 Pasirjati, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, Selasa (15/12/2020).

Lebih lanjut, Mufid sangat menyayangkan kondisi kertas Daluang yang disebut kebanggaan nusantara tetapi nyaris punah. Dia mengatakan, kertas Papyrus hingga saat ini masih diproduksi bahkan mangsa pasarnya hingga ke Tegalega, Bandung.

Begitupun dengan kertas Washi yang mudah ditemukan di bandara Jepang. Apalagi kertas Hanji dari Korea yang masih sangat diminati oleh wisatawan.

Sejak dijadikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemdikbud pada 2014 lalu, Mufid tidak merasakan perubahan apapun selain menerima surat keputusan. Padahal, kata dia, Daluang memiliki potensi membangkitkan usaha jika dipromosikan.

"Kalau benar-benar pemerintah ada keinginan untuk menguatkan budaya sendiri, minimalnya produksi kertas Daluang secara rutin. Atau yang lebih ekstrim lagi wajibkan akta kelahiran menggunakan kertas Daluang, karena terbukti dari daya tahannya saja bisa mencapai ratusan tahun," kata Mufid.

Selain menjadi kertas Daluang yang berbahan kulit pohon saeh, Mufid juga telah membuat berbagai macam prototipe karya seni lain seperti tas, kanvas sederhana dari kulit pohon saeh, hingga alat musik. Dia juga sempat mendemonstrasikan permainan wayang beber menggunakan kertas Daluang, fungsinya agar Daluang tetap digunakan di berbagai elemen kesenian.

Mengenai wayang beber ini, Mufid punya cerita tersendiri. Seni tradisional berusia ratusan tahun ini kini di ambang kepunahan juga. Kendati demikian, Mufid menuturkan, wayang beber masih bisa kita jumpai di Pacitan, Gunung Kidul, dan satu set berada di Leiden, Belanda.

Meskipun tak banyak, Mufid mulai mewariskan ilmu yang ia sebut sebagai 'toekang saeh' kepada muridnya atas dasar kemauan sendiri. Begitupun kepada anaknya, yang tanpa ada paksaan apapun.

Dia berharap, pemangku kebijakan dapat memperhatikan yang 'katanya' warisan budaya ini. Karena Mufid mengaku, tak menemui pembelajaran di sekolah maupun di fakultas seni walaupun hanya sebatas pengantar tentang seni membuat daluang.

Padahal dalam sejarahnya, kertas daluang erat kaitannya dengan desain grafis, gambar, lukis, sablon, percetakan dan lainnya. Lalu di bidang ekonomi, kertas daluang bisa dimanfaatkan sebagai oleh-oleh pariwisata, tapi potensi ini juga tidak didorong.

Dalam perjalanannya selama 14 tahun, Mufid telah melakukan berbagai macam pameran sebagai sosialisasi kertas Daluang secara mandiri dan kolaborasi dengan berbagai komunitas. Mulai dari kalangan pesantren, seniman dari dalam negeri seperti pelukis & kurator Diyanto, dan dari luar negeri seperti dari Jepang, Rusia, Mesir, Kroasia.

(mso/mso)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT